Soal Rupiah, Bambang Brodjonegoro: Harus Perbaiki Defisit Transaksi Berjalan

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro dalam Rapat Kerja Kementerian Perdagangan 2018 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Kamis, 1 Februari 2018. TEMPO/Andita Rahma

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro dalam Rapat Kerja Kementerian Perdagangan 2018 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Kamis, 1 Februari 2018. TEMPO/Andita Rahma

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional   Bambang Brodjonegoro mengatakan pemerintah termasuk pihaknya harus memperbaiki fundamental, terutama defisit transaksi berjalan. Hal tersebut merespons nilai tukar rupiah yang melemah.

    BACA: Bambang Brodjonegoro: Revisi Pertumbuhan Ekonomi Terkait Rupiah

    "Ya tentunya kita harus memperbaiki fundamentalnya terutama defisit transaksi berjalan," kata Bambang saat ditemui di acara Karya Kreatif 2018 Bank Indonesia, Senayan, Jakarta, 21 Juli 2018.

    Dalam situs resmi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di angka Rp 14.520 pada Jumat, 20 Juli 2018. Angka tersebut menunjukkan pelemahan 102 poin dari nilai sebelumnya, yaitu Rp 14.418 pada penutupan Kamis, 19 Juli 2018.

    Sedangkan pada 20 Juli 2018, kurs jual US$ 1 terhadap rupiah, yaitu Rp 14.593 dan kurs beli Rp 14.447.

    BACA:Rupiah Melemah Mendekati Rp 15 Ribu, karena Pernyataan BI?

    Adapun pada 16 Juli 2018, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto. Mengatakan neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2018 surplus US$ 1,74 miliar atau setara dengan Rp 25 triliun. Kondisi itu dipicu surplus sektor non migas US$ 2,14 miliar. "Namun sektor migas defisit US$ 0,39 miliar," kata Suhariyanto di Kantor BPS.

    Jika diambil rata-rata sejak Januari-Juni 2018, Suhariyanto menuturkan neraca perdagangan Indonesia masih dalam kondisi defisit. Surplus hanya terjadi pada Maret dan Juni 2018.

    Suhariyanto menjelaskan defisit pada Januari-Juni 2018 berjumlah US$ 1,02 miliar. Hal tersebut merupakan selisih dari nilai ekspor US$ 88,01 miliar dan impor US$ 89,04 miliar.

    Peningkatan ekspor migas, kata Suhariyanto, disebabkan meningkatnya nilai ekspor minyak 4,22 persen menjadi US$ 544,2 juta. Kemudian ekspor gas 15,45 persen menjadi US$ 1,05 miliar.

    Suhariyanto menjelaskan, secara kumulatif nilai ekspor Indonesia periode Januari-Juni 2018 mencapai US$ 88,02 miliar. Dia mengatakan nilai ekspor itu naik 10,03 persen dibanding periode yang sama pada 2017.

    Namun, ujar Suhariyanto, nilai tersebut menurun 19,80 persen, jika dibandingkan ekspor pada Mei 2018. "Yaitu dari US$ 16, 2 miliar menjadi US$ 12,9 miliar," tutur dia dalam penjelasan soal neraca perdagangan Indonesia.

    Baca berita tentang rupiah lainnya di Tempo.co.

    CHITRA PARAMAESTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hasil Sensus 2020 yang Menentukan Penentuan Kebijakan Pembangunan

    Akan ada perbedaan pada penyelenggaraan sensus penduduk yang ketujuh di tahun 2020. Hasil Sensus 2020 akan menunjang penentuan kebijakan pembangunan.