Rupiah Melemah, BI: Bukan Karena Masalah Domestik

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegawai menunjukkan uang di sebuah Money Changer di Jakarta, Rabu (03/02). Rupiah hari ini ditutup pada level 9.395 per dolar Amerika, atau kembali menguat 70 poin dibandingkan posisi sehari sebelumnya di 9.365. TEMPO/Dinul Mubarok

    Pegawai menunjukkan uang di sebuah Money Changer di Jakarta, Rabu (03/02). Rupiah hari ini ditutup pada level 9.395 per dolar Amerika, atau kembali menguat 70 poin dibandingkan posisi sehari sebelumnya di 9.365. TEMPO/Dinul Mubarok

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Gubernur Bank Indonesia Erwin Rijanto mengatakan rupiah melemah hingga Rp 14.520 per dolar AS bukan karena masalah domestik. Menurut Erwin, pelemahan rupiah terjadi karena memang kurs dolar Amerika Serikat yang sedang menguat. "Kalau semua seluruh dunia itu melemah against Dolar, ya mestinya that's it," ujarnya ditemui di Jakarta Convention Center, Jumat, 20 Juli 2018.

    Baca: Rupiah Melemah Mendekati Rp 15 Ribu, karena Pernyataan BI?

    Tak berbeda dengan yang disebutkan Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya, Erwin menyatakan penyebab pelemahan rupiah belakangan ini dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berbeda dengan bank sentral Abang Sam tersebut. "Problemnya itu adalah Mister Trump yang membuat pernyataan berlawanan dengan Fed (The Federal Reserve)," tuturnya.

    Seperti diketahui,  Gubernur The Fed Jerome Powell pada pidatonya awal pekan ini mengindikasikan konsistensi menaikkan suku bunga acuannya empat kali tahun ini. Namun, Presiden Donald Trump, melontarkan kritiknya kepada Bank Sentral AS karena kenaikan suku bunga bisa menghambat percepatan pemulihan ekonomi AS.

    Baca: Melesu, Kurs Rupiah Injak Level Rp 14.520

    Tak hanya itu, ada sejumlah kebijakan perang dagang dengan AS di Cina yang membuat dolar AS menguat. Erwin mengatakan saat ini hampir seluruh mata uang dunia melemah terhadap dolar AS. "Ya memang itu lah keadaan dunia. Saat ini Amerika lagi berdaya," kata Erwin.

    Berbarengan dengan itu, eskalasi perang dagang antara dua negara raksasa ekonomi AS dan Cina semakin meningkat setelah kontradiksi pernyataan Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow dan penasihat ekonomi senior pemerintah Cina Liu He. "Cina itu melakukan, misalnya devaluasi menurunkan kursnya berkaitan dengan perang dagang itu," ujar Erwin.

    Erwin mengatakan kalau sekarang sedang menguat terhadap terhadap mata uang India atau rupee secara year to date. Menurut Erwin saat ini BI tetap selalu ada pasar. "Itu yang paling penting," kata Erwin.

    Dalam situs resmi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di angka Rp 14.520 pada Jumat, 20 Juli 2018. Angka tersebut menunjukkan pelemahan 102 poin dari nilai sebelumnya, yaitu Rp 14.418 pada penutupan Kamis, 19 Juli 2018. Sedangkan pada 20 Juli 2018, kurs jual per dolar terhadap rupiah, yaitu Rp 14.593 dan kurs beli Rp 14.447.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H