Jumat, 16 November 2018

Kurs Dolar Diprediksi Alami Titik Puncaknya di Oktober

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas penukaran mata uang asing di kawasan Kwitang, Jakarta, 8 Mei 2018. Nilai tukar rupiah berakhir melemah 51 poin atau 0,36% di Rp14.052 per dolar AS seiring pergerakan IHSG pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (8/5/2018). TEMPO/Tony Hartawan

    Aktivitas penukaran mata uang asing di kawasan Kwitang, Jakarta, 8 Mei 2018. Nilai tukar rupiah berakhir melemah 51 poin atau 0,36% di Rp14.052 per dolar AS seiring pergerakan IHSG pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (8/5/2018). TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar kembali mengalami pelemahan. Berdasarkan Jakarta Interspot Dollar Rate Bank Indonesia, nilai tukar rupiah menginjak level Rp 14.520 per dolar Amerika Serikat pada Jumat, 20 Juli 2017, pukul 12.21 WIB.

    Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, memprediksi dolar akan kian perkasa pada kisaran September atau Oktober 2018. Saat itu, tekanan terhadap kurs rupiah juga akan membesar.

    Simak pula: Rupiah Diprediksi Menguat di Rp 14.379 - Rp 14.368 Hari Ini

    Ia memprediksi rupiah bisa mencapai titik paling rendah di kisaran Rp 14.700 per dolar Amerika. "Saat ini, dollar index bertahan di angka tertinggi 95,2 menguat dibanding mata uang dominan. Diprediksi dolar akan naik ke titik tertinggi pada bulan September atau Oktober," ujar Bhima kepada Tempo, Jumat, 20 Juli 2018.

    Selain itu, tekanan terhadap rupiah datang akibat perang dagang antara Amerika dan Cina, yang diprediksi semakin memburuk. Sebab, konsensus di antara dua negara adidaya itu masih belum tercapai. Padahal, pada mulanya, perang dagang diperkirakan tidak akan berlangsung lama.

    Faktor yang mendorong pelemahan rupiah juga datang dari dalam negeri. Bhima mengatakan pelemahan itu salah satunya disebabkan oleh pernyataan BI yang merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi 5,1 persen. "Sentimen langsung berubah pesimistis," tuturnya.

    Revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi itu disampaikan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam jumpa pers seusai rapat dewan gubernur bank sentral bulan Juli, kemarin. Padahal, kata Bhima, BI akan menjaga ekspektasi pasar dengan tone positif. "Namun RDG kemarin malah membuktikan sebaliknya."

    Baca juga: Tensi Perang Dagang Mereda, Rupiah Diprediksi Bakal Menguat

    Belum lagi, dari RDG kemarin, BI juga tampak memasang posisi tidak akan menaikkan tingkat suku bunga acuan sampai akhir tahun 2018. Dampaknya, investor cenderung menahan diri.

    Padahal, menurut Bhima, ruang pengetatan moneter masih ada setidaknya sekali lagi. Ia berujar ada kemungkinan BI sedang menunggu fenomena super dolar memuncak pada pertengahan semester kedua tahun ini. "Sehingga 7ddr mungkin akan dinaikkan lagi 25 basis poin," kata Bhima.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kalender Lengkap Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2019

    Pemerintah telah merilis jadwal soal hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2019. Sudah siap merancang kegiatan untuk mengisi libur?