Sri Mulyani Ungkap 3 Tren yang Pengaruhi Perekonomian Dunia

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan laporan semester 1 APBN 2018 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, 9 Juli 2018. TEMPO/Friski Riana

    Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan laporan semester 1 APBN 2018 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, 9 Juli 2018. TEMPO/Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan perekonomian global tengah mengalami tiga tren utama. Hal ini dia ungkapkan saat menjadi pembicara dalam 10 tahun perayaan initial public offering (IPO) Adaro Energy, Senin malam, 16 Juli 2018.

    Baca jugaInovasi Teknologi, Sri Mulyani Berencana Tarik Pajak untuk Robot

    "Pertama, kita lihat kebijakan yang diambil negara maju akan berpengaruh di bidang moneter adalah mulainya policy new normal. Banyak yang bilang ini adalah old normal back, karena sesungguhnya ekspansi moneter yang dilakukan ECB dan Amerika Serikat (AS) itu adalah extraordinary policy, di mana suku bunga naik dan terjadi rebalancing di seluruh dunia," tutur Sri Mulyani menjelaskan.

    Menurut Sri Mulyani, banyak negara yang tidak siap menghadapi fenomena tersebut sehingga terdampak cukup besar. Namun Indonesia, menurutnya, siap menghadapi situasi tersebut.

    Kedua, tren perdagangan internasional, sebuah guncangan kebijakan yang diadopsi dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Kebijakan yang diadaptasi adalah penerapan tarif impulsif komoditas dari Cina dan dari negara mitra dagang AS seperti Kanada, Eropa, dan Meksiko.

    Baca juga: Sri Mulyani Tambah Dana Subsidi Solar Tanpa Revisi APBN 2018

    Menurutnya, tren ini merupakan tren yang paling menunjukkan ketidakpastian, bahkan sampai membuat Menteri Keuangan negara-negara anggota G-20 tidak bisa tidur.

    "Saya bicara di berbagai kesempatan dengan rekan Menkeu (Menteri Keuangan) negara G-20, itu juga tidak tahu apa yang dilakukan Trump dan pengaruhnya. Kekhawatiran itu menjadi lebih besar dari pada ketidakpastian itu sendiri," ujar Sri Mulyani.

    Ketiga adalah tren perubahan dan volatilitas. Menurutnya, memasuki 2018, perekonomian dunia memasuki era optimisme yang tinggi, tetapi berhadapan dengan perang tarif dan kenaikan suku bunga The Fed terjadi dinamika volatilitas yang tinggi.

    Baca juga: Sri Mulyani Ingatkan Pajak Tulang Punggung Negara

    Walaupun begitu, menurutnya, harga komoditas saat ini tengah mengalami proses perbaikan, sehingga sisi optimisme masih muncul dari perbaikan tersebut.

    Terkait perubahan, Sri Mulyani berpendapat saat ini teknologi yang mengalami perkembangan pesat menjadi suatu keniscayaan. Di satu sisi teknologi dapat meningkatkan produktivitas, tetapi di sisi lain menjadi tantangan pengembangan SDM supaya bisa mengejar inovasi teknologi.

    Pemerintah, menurut Sri Mulyani, menyadari hal tersebut sehingga berfokus pada tiga hal, yakni perbaikan dan pembangunan infrastruktur; investasi pada SDM berupa mengatasi kemiskinan, kesehatan, pendidikan dan stunting; serta reformasi birokrasi supaya lebih efisien.

    BISNIS

    Baca juga Serial Bisnis Anak Milenial: Jawara Digital Marketing Dewa Eka Prayoga yang Melawan Kemustahilan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.