Rupiah Diprediksi Melemah di Kisaran Rp 14.360 - Rp 14.450

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mata uang Rupiah. Brent Lewin/Bloomberg via Getty Images

    Ilustrasi mata uang Rupiah. Brent Lewin/Bloomberg via Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Analis Panin Sekuritas William Hartanto memprediksi rupiah akan melemah hari ini. William memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 14.360 - Rp 14.450. Menurut William rupiah akan cenderung bergerak ke Rp 14.450.

    BACA: Rupiah Diprediksi Menguat di Rp 14.379 - Rp 14.368 Hari Ini

    "Faktornya rilis kinerja keuangan emiten dan neraca perdagangan kemarin. Range nya di Rp 14.360 - Rp 14.450," kata William saat dihubungi, Selasa, 17 Juli 2018.

    Menurut William rilis neraca perdagangan kemarin berdampak negatif, karena walaupun surplus, tapi ekspor menurun.

    Dalam situs resmi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di angka Rp 14.396 pada penutupan Senin, 16 Juli 2018. Angka tersebut menunjukkan pelemahan 38 poin dari nilai sebelumnya, yaitu Rp 14.358 pada penutupan Jumat, 13 Juli 2018.

    Sedangkan pada 16 Juli 2018, kurs jual US$ 1 terhadap rupiah, yaitu Rp 14.468 dan kurs beli Rp 14.324.

    BACA: Bela Jokowi, Misbakhun: Depresiasi Rupiah, Persoalan Global

    Sedangkan ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara memprediksi rupiah hari ini bergerak menguat tipis di angka Rp 14.200 - Rp 14.360. Pelaku pasar mencermati data pertumbuhan ekonomi Cina pada kuartal II yang mencapai 6,7 persen.

    Menurut Bhima ekonomi Cina dianggap masih mampu mengimbangi kerugian dari adanya perang dagang. Artinya, kata Bhima efek perang dagang diharapkan tidak terlalu besar ke negara Asia lainnya.

    "Dari dalam negeri rilis data BPS khususnya neraca perdagangan yang surplus US$ 1,7 miliar merupakan surplus yang semu, karena dilihat secara detail kinerja ekspor bulan Juni menurun -19,8 persen dibanding Mei," kata Bhima.

    Menurut Bhima surplus lebih disebabkan turunnya impor akibat libur panjang lebaran. Surplus semu menjadi indikator bahwa semester II besar kemungkinan akan terjadi defisit perdagangan. Untuk antisipasi hal tersebut, kata Bhima pelaku usaha mulai mengoleksi dolar lagi.

    Baca berita tentang rupiah lainnya di Tempo.co.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.