Neraca Perdagangan Diprediksi Surplus USD 600 Juta

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 20 Oktober 2017. Penurunan nilai ekspor Indonesia pada September 2017 sebesar US$ 14,54 miliar, turun 4,51% dibanding bulan sebelumnya. Tempo/Tony Hartawan

    Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 20 Oktober 2017. Penurunan nilai ekspor Indonesia pada September 2017 sebesar US$ 14,54 miliar, turun 4,51% dibanding bulan sebelumnya. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara memprediksi neraca perdagangan Juni bakal surplus US$ 600 juta. "Investor menanti data neraca perdagangan bulan Juni yang diprediksi surplus US$ 600 juta," kata Bhima saat dihubungi Sabtu, 14 Juli 2018.

    Menurut Bhima, surplus neraca perdagangan didorong oleh ekspor yang terpotong libur panjang. Ada efek proteksi dagang juga yang menghambat ekspor komoditas sawit dan karet.

    Baca: Darmin Nasution Perkirakan Neraca Perdagangan Juni Defisit

    Namun, Bhima mengatakan dari sisi impor memang anjlok dari Mei ke Juni. Impor bahan baku dan barang modal agak direm karena dua faktor, yaitu industri libur lebaran, dan kurs rupiah yang membuat biaya impor naik.

    Kondisi surplus itu ,menurut Bhima, sebenarnya semu karena selama Juni aktivitas ekspor impor terpotong libur panjang lebaran. "Diprediksi pada Juli kembali terjadi defisit perdagangan seiring aktivitas perdagangan internasional kembali normal," katanya.

    Baca: BI Yakin Surplus Neraca Perdagangan Juni USD 1 M, Ini Sebabnya

    Pada 25 Juni 2018, Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat neraca perdagangan pada Mei 2018 kembali mengalami defisit sebesar US$ 1,52 miliar. Naiknya harga minyak dunia membuat impor minyak dan gas semakin meningkat sehingga membuat neraca perdagangan kembali tertekan.

    "Impor melonjak tinggi karena kenaikan harga minyak dan gas, padahal ekspor sih sudah lumayan baik," kata Kepala BPS Suhariyanto di kantornya saat itu. "Harga minyak dunia naik membuat impor melonjak tajam."

    BPS mencatat nilai impor Indonesia selama Mei 2018 mencapai US$ 17,64 miliar atau meningkat 9,17 persen dibandingkan dengan April 2018. Komposisi kenaikan terbesar memang disumbang oleh impor migas yang naik hingga 20,95 persen atau jauh melampaui kenaikan impor nonmigas sebesar 7,19 persen.

    Bulan Mei 2018 ini, nilai impor nonmigas berada di angka US$ 14,82 miliar. Sementara, nilai ekspor tumbuh lebih rendah yaitu US$ 16,12 miliar atau meningkat 10,90 persen dibanding April 2018. Performa ekspor masih cukup lebih baik karena sektor nonmigas menyumbang pertumbuhan yang lebih tinggi sebesar 28,8 persen. Sementara ekspor migas tumbuh 9,25 persen. "Jadi kami melihat ekspor bulan Mei ini cukup menggembirakan," ujar Suhariyanto.

    Baca berita menarik lainnya tentang neraca perdagangan hanya di Tempo.co .


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.