Jajal LRT Palembang, Jokowi: Agar Tumbuh Budaya Antre

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi mencoba LRT Sumsel dari stasiun Bumi Sriwijaya menuju stasiun Jakabaring selama sekitar 20 menit. Jokowi memastikan proyek perdana ini akan dikembangkan di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan. TEMPO/ Parliza Hendrawan

    Presiden Jokowi mencoba LRT Sumsel dari stasiun Bumi Sriwijaya menuju stasiun Jakabaring selama sekitar 20 menit. Jokowi memastikan proyek perdana ini akan dikembangkan di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan. TEMPO/ Parliza Hendrawan

    TEMPO.CO, Palembang - Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin mencoba light rail transit (LRT) Sumatera Selatan di Palembang, Jumat, 13 Juli 2018. Jokowi naik dari Stasiun Bumi Sriwijaya sekitar pukul 14.24 dan tiba di Stasiun Jakabaring pada pukul 14.40.

    Menurut dia, pembangunan LRT tidak hanya solusi mengatasi kemacetan selama Asian Games, tapi juga menjadi angkutan alternatif bagi warga Palembang setelah agenda tersebut. "Saya ingin LRT ini menjadi contoh di kota besar yang mulai macet dan padat," kata Jokowi.

    Baca juga: Kunjungan Kerja ke Sumatera Selatan, Jokowi Akan Coba LRT

    Jokowi menjelaskan, pembangunan LRT akan mengubah budaya masyarakat dalam menggunakan transportasi massal yang aman dan nyaman. Budaya tepat waktu dan antre diharapkan makin tumbuh. Walaupun membutuhkan waktu yang lama untuk mewujudkan itu, Jokowi optimistis pelan-pelan masyarakat akan terlatih.

    Ke depannya proyek LRT akan dikembangkan di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan. "Tahap awal ini dioperasikan untuk Asian Games," ujarnya.

    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan LRT pertama di Indonesia ini memiliki konstruksi sepanjang 22,3 kilometer. Di sepanjang jalur terdapat 13 stasiun yang bisa menaikkan dan menurunkan penumpang di pusat kota, pusat perbelanjaan, dan sarana sosial, seperti Rumah Sakit Sumsel.

    Budi Karya sangat yakin kehadiran LRT di Palembang bisa mengatasi kemacetan, dan yang lebih penting lagi, mengubah gaya hidup warga kota dari berkendaraan pribadi menuju angkutan massal. "Sudah menjadi pilihan yang harus dilakukan di kota besar bila ingin mengubah lifestyle masyarakat," katanya.

    Proyek ini terbilang mahal dan prestisius. Menurut Budi Karya, dalam beberapa tahun proyek berjalan, pemerintah telah menghabiskan sekitar Rp 10,9 triliun untuk prasarana dan Rp 600 miliar sarananya. Selain itu, melalui APBN, digelontorkan Rp 100 miliar dari APBD untuk pengadaan tanah.

    Angka tersebut ia pastikan seimbang dengan manfaat yang akan dirasakan masyarakat. "Jadi totalnya sekitar Rp 11,6 triliun. Ini merupakan kombinasi antara APBN dan APBD, APBD untuk tanah itu," katanya.

    Hingga saat ini baru 4 dari 13 stasiun yang bisa dioperasikan. Sebab, ada berbagai kendala, seperti keterlambatan pembebasan lahan. Keempat stasiun tersebut adalah Jakabaring, Pasar Cinde, Bumi Sriwijaya, dan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Meskipun demikian, saat beroperasi penuh pada awal Agustus ini, semua stasiun sudah bisa digunakan.

    Alex Noerdin menjelaskan, proyek LRT merupakan salah satu proyek dari pemerintah pusat yang diperuntukkan bagi kelancaran Asian Games. Proyek lain meliputi Jembatan Musi IV dan Musi VI, yang juga diproyeksikan dapat mengurai kepadatan kendaraan di Palembang bagian Ulu dan Ilir. Selain itu, dibangun ruas tol Palembang-Indralaya, Ogan Ilir. "Ujungnya akan tercipta peningkatan kesejahteraan masyarakat," kata Budi Karya, yang mendampingi Jokowi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.