Harga Daging Ayam Tembus Rp 42 Ribu, Ini Penyebabnya

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi daging ayam. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Ilustrasi daging ayam. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Bandung -Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional Herry Dermawan mengatakan, harga daging ayam tinggi gara-gara produksi peternak turun. “Kalau sekarang harga tinggi, karena permintaan mungkin tetap, tapi produksi terganggu. Gara-garanya sekarang itu produktivitas, jadi tingkat keberhasilan peternak turun 20 persen,” kata dia saat dihubungi Tempo, Selasa, 10 Juli 2018.

    Herry mengatakan, sejumlah penyebab, mulai dari bibit hingga pakan. Bibit atau DOC ayam misalnya, harganya sudah 2 bulan ini naik dari harga normal maksimal Rp 5 ribu per ekor, kini melambung menjadi Rp 6.500 sampai Rp 7.000 per ekor. “Sudah susah dapatnya, kualitas DOC jelek,” kata dia.

    BACA: Harga Daging Ayam dan Telurnya Terus Naik di Bandung

    Gara-gara kualitas bibit yang buruk tersebut, produktivitas ayam peternak turun. “Kalau sekarang saya pelihara ayam 1.000 ekor, yang bisa dipanen 800-900 ekor. Sisanya kedil. Otomatis produksi ayam berkurang,” kata Herry.

    Herry mengatakan, bersamaan harga pakan juga naik. Penyebabnya, harga pembelian bahan baku yang mayoritas impor sudah naik, diperburuk dengan anjloknya nilai tukar Rupiah. Posisi harga pakan normalnya Rp 6.500 per kilogram, naik menjadi Rp 7.000 sampai Rp 8.000 per kilogram.

    Kualitas pakan ternak pun dikeluhkan menurun. Hitunganya, normalnya untuk mendapat berat hidup 1 kilogram ayam dibutuhkan 1,7 kilogram pakan, dengan kualitas pakan saat ini naik kebutuhan pakan tembus 2 kilogram. “Modal peternak dengan harga DOC Rp 7 ribu, dengan kualitas pakan seperti ini, kualitas pakan jelek, harga mahal, modalnya sekarang bisa mencapai Rp 21 ribu (sampai panen),” kata dia.

    Herry mengatakan, normalnya harga jual ayam hidup di peternak, berkisar Rp 18 ribu per ekor. Dengan kondisi saat ini, peternak melepas harga ayam hidup di kandang Rp 24 ribu. “Sekarang ini dengan harga di peternak tinggi, belum tentu menjamin peternak untung,” kata dia.

    BACA: Dampak Cuaca Dingin, Harga Daging Ayam dan Telur Naik Drastis

    Menurut Herry, persoalan peternak ini akan dilaporkan secepatnya pada Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan. Dengan perubahan harga DOC dan pakan tersebut, peternak menginginkan Kementerian Perdagangan merevisi Peraturan Menteri Perdagangan yang mengatur harga penjualan ayam peternak di kandang yang mematok harga penjualan ayam di kandang Rp 20 ribu hingga Rp 22 ribu per ekor.

    “Ini harus di evaluasi karena waktu Permedag dibuat, harga DOC ditargetkan Rp 4.800 sampai Rp 5 ribu per ekor, dan harga pakan Rp 6.500 per kilogram. Kementerian Pertanian juga harus segera turun ke lapangan untuk memeriksa produksi ayam, DOC, dan breeding farm,” kata Herry.

    Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jawa Barat Dewi Sartika membenarkan harga daging ayam cenderung naik. Harga daging ayam sejak dari kandang sudah naik menembus Rp 21 ribu per ekor. Dengan harga kandang demikian, harga di pasar tradisional bisa menembus Rp 39 ribu per kilogram. “Harga rata-rata masih di angka Rp 39 ribu sampai Rp 40 ribu per kilogram,” kata dia saat dihubungi, Selasa, 10 Juli 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peranan Penting Orang Tua dalam Kegiatan Belajar dari Rumah

    Orang tua mempunyai peranan yang besar saat dilaksanakannya kegiatan belajar dari rumah.