Senin, 23 Juli 2018

Bappenas: Perang Dagang AS - Cina Bisa Ganggu Perekonomian Daerah

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) bersama Menteri Perencanaan Pembangunan (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kanan) mengikuti rapat tentang evaluasi Tingkat Komponen Dalam Negeri di Kantor Presiden, Jakarta, 1 Agustus 2017. Dalam arahannya, Presiden menyinggung tentang tingkat komponen dalam negeri (TKDN). ANTARA/Puspa Perwitasari

    Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) bersama Menteri Perencanaan Pembangunan (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kanan) mengikuti rapat tentang evaluasi Tingkat Komponen Dalam Negeri di Kantor Presiden, Jakarta, 1 Agustus 2017. Dalam arahannya, Presiden menyinggung tentang tingkat komponen dalam negeri (TKDN). ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menilai perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Cina dapat mengganggu perekonomian daerah penghasil produk atau komoditas ekspor di Indonesia.

    "Di dalam perang dagang, yang ditakutkan adalah adanya proteksi, tarif tinggi, yang kemudian bisa pengaruhi ekspor. Kalau ekspor produk atau komoditi terganggu, kita khawatirkan nanti perekonomian di daerah penghasil komoditas atau barang tersebut juga akan terganggu," ujar Bambang saat jumpa pers di Jakarta, Selasa, 10 Juli 2018.

    Baca juga: Strategi Jokowi Antisipasi Ancaman Perang Dagang AS

    Sementara itu, dalam konteks Indonesia dan AS sendiri, perang dagang memang akan berdampak pada produk-produk ekspor manufaktur yang didominasi oleh daerah-daerah di Jawa.

    "Potensi dampak dari perang dagang, kita harus lihat apa sektor yang terkena, kemungkinan ya sektor manufaktur, manufakturnya terkait tekstil. Tapi bisa juga kemudian kalau AS misalkan men-challenge Indonesia mengenai produk-produk yang sudah dapatkan GSP (Generalized System of Preference), tentunya ini akan mempengaruhi ekspor Indonesia ke AS," kata Bambang.

    Kendati demikian, lanjut Bambang, apabila Indonesia mendapatkan hambatan dari AS terkait ekspor, pemerintah Indonesia bisa mengalihkan produk ekspor ke negara lain, dan ia menilai hal tersebut seharusnya tidak menjadi masalah.

    Namun, pemerintah Indonesia tentunya harus mempersiapkan diri jika perang dagang berlanjut dengan tetap menjaga daya saing produk ekspor Indonesia.

    Baca juga: Indonesia Kirim Tim Temui Pemerintah AS Bahas Perang Dagang

    "Tentunya kita harus tetap mempersiapkan diri. Pertama, negosiasi tetap dikedepankan. Kedua, kita harus terus menjaga daya saing. Kalau kita bisa menjaga daya saing, kalau kita dihalangi di suatu negara, produk kita yang sudah kompetitif ini bisa mengalir ke negara lain. Jadi seharusnya jaringan ekspornya tidak terganggu," ujar Bambang.

    Pada pekan lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyatakan akan mengevaluasi produk-produk atau komoditas dari Indonesia yang masuk ke negara yang dipimpinnya itu. Pemerintah AS akan mencabut tarif bea masuk istimewa yang selama ini diperoleh produk-produk ekspor Indonesia ke AS.

    Pemerintah sendiri menyatakan akan mengirim tim untuk melakukan negosiasi terkait ancaman perang dagang dari Presiden AS tersebut.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bulan Juli Ada Hari Es Krim Nasional di Amerika Serikat

    Tanggal 15 Juli adalah Hari Es Krim Nasional di Amerika Serikat. Ronald Reagan menetapkan bulan Juli sebagai hari minuman yang disukai tua muda itu.