Rabu, 21 November 2018

Memulai Bisnis Pakaian? Simak Saran Pengusaha Beromset Miliaran

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja tengah mengerjakan pembuatan jeans di Egome Denim Store saat saat peluncuran bisnis fashion terbaru Raffi Ahmad, RA Jeans, di Jakarta, 8 Oktober 2015. TEMPO/Nurdiansah

    Pekerja tengah mengerjakan pembuatan jeans di Egome Denim Store saat saat peluncuran bisnis fashion terbaru Raffi Ahmad, RA Jeans, di Jakarta, 8 Oktober 2015. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Memulai menjadi tahapan paling sulit bagi masyarakat untuk berbisnis, termasuk pakaian. Tak terkecuali bagi Owner NoonaKu Signature, Florentia Jeanne. Ia sudah mengembangkan bisnis fesyen dengan harga jual produk maksimum Rp 100 ribu sejak 2011. 

    "Masalahnya, memulai itu berat, apalagi kami enggak ada pengalaman dan background pengusaha. Selain itu, self limitation juga menjadi hambatan," ujar Florentia di Bintaro Jaya Xchange Mall, Tangerang Selatan, Sabtu, 7 Juli 2018. Kini, ia bisa meraup omzet Rp 4,3 miliar per tahun dari bisnisnya itu.

    Florentia membagikan tips bagi masyarakat yang hendak memulai bisnis, khususnya di bidang fesyen.

    Baca: Begini Kiat Sukses Berbisnis Fashion bagi Pemula 

    Pertama, jangan takut memulai. Florentia mengatakan masyarakat yang hendak memulai bisnis jangan takut untuk memulai. Meski, kadangkala, banyak pemikiran-pemikiran yang menyebabkan orang batal memulai bisnis. "Karena kalau tidak memulai kita malah tidak tahu hasilnya," ujar Florentia. "Jadi jangan membatasi diri, pertarungan utama ada di dalam pikiran kita sendiri."

    Kedua, kegagalan adalah pembelajaran. Menurut Florentia, kegagalan dalam merintis bisnis adalah kursus atau les. Ia mengatakan masa-masa itu adalah masa menuju puncak.

    Ia mengenang masa di kala baru merintis bisnis. Kala itu, modalnya adalah ponsel hadiah dari acara pernikahan temannya. Ia mencoba menjajakan produk casing ponsel melalui sosial media di ponsel barunya itu. Ternyata, produk yang dijajakannya itu tidak laku, hanya satu hingga dua unit saja yang terjual.

    Simak: Startup Pilihan Tempo: Jahitin, Bisnis Fashion Berbasis Sosial

    Dari sana, ia mempelajari bahwa casing ponsel bukan komoditas yang banyak dicari. Florentia pun tidak langsung menyerah. Ia memutar otak dan memutuskan untuk banting setir ke produk fesyen. "Kalau gagal jangan nyerah tapi pelajari apa kesalahannya. Misalnya ngeluarin gamis tapi bukan pada waktunya, jadi itu harus dipelajari. Berikutnya jangan dilakuin lagi," ujar Florentia.

    Ketiga, untuk bisnis fesyen, produk dasar adalah kunci. Florentia berujar masyarakat yang hendak memulai berbisnis fesyen sebaiknya memulai dari memproduksi maupun menjual produk dasar, misalnya kemeja putih, rok hitam, dan celana panjang hitam.

    Sebab, berdasarkan pengalamannya, produk-produk dasar pasti dicari orang. "Kemeja putih dan rok kerja maupun celana panjang hitam. itu kan dari dulu sampai sekarang pasti butuh," kata Florentia.

    Ketika hendak mengembangkan bisnis dengan menjual produk bermotif. Florentia menyarankan agar melakukan analisis mendalam, ihwal tren pasar dan lamanya model bertahan. "Kalau polkadot dan strip itu kan everlasting, tapi bunga itu lebih musiman."

    Selanjutnya, bila bisnis pakaian tersebut sudah berjalan, Florentia yakin pembelajaran-pembelajaran akan datang dengan sendirinya. "Saya pun learning by doing," ujar dia lagi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komposisi Utang Merpati Nusantara Airlines

    Asa bisnis Merpati Nusantara Airlines mengembang menyusul putusan Pengadilan Niaga Surabaya yang mengabulkan penundaan kewajiban pembayaran utang.