Senin, 24 September 2018

Kenaikan Suku Bunga BI Dinilai Membuat Rupiah Terus Melemah

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo bersiap memberikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur tambahan di kantor pusat BI, Jakarta, 30 Mei 2018. Bank Indonesia memutuskan kembali menaikkan suku bunga acuan BI 7-days repo rate 25 basis poin menjadi 4,75 persen untuk mengantisipasi risiko eksternal terutama kenaikan suku bunga acuan kedua The Fed pada 13 Juni mendatang. TEMPO/Tony Hartawan

    Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo bersiap memberikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur tambahan di kantor pusat BI, Jakarta, 30 Mei 2018. Bank Indonesia memutuskan kembali menaikkan suku bunga acuan BI 7-days repo rate 25 basis poin menjadi 4,75 persen untuk mengantisipasi risiko eksternal terutama kenaikan suku bunga acuan kedua The Fed pada 13 Juni mendatang. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kebijakan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen ternyata berkontribusi kepada terus melemahnya nilai tukar Rupiah. Hal tersebut dibuktikan oleh Ekonom dari Universitas Indonesia Fithra Faisal melalui simulasi hubungan antara suku bunga dan nilai tukar.

    "Itu hasilnya non monotonik, artinya ketika suku bunga dinaikkan sedikit maka ada potensi rupiah membaik. Tetapi ketika naiknya agresif dan tinggi, kecenderungannya malah terdepresiasi," ujar Fithra kepada Tempo, Sabtu, 7 Juli 2018.

    Baca: Bank Mandiri Tahan Suku Bunga Kredit Hingga Akhir Tahun

    Hal tersebut tercermin dalam kondisi rupiah pasca keluarnya kebijakan moneter BI tersebut. Dampak positif kenaikan suku bunga acuan terhadap penguatan rupiah ternyata tidak terlalu signifikan, malahan beberapa waktu terakhir nilai tukar rupiah makin loyo. Berdasarkan Jakarta Interspot Dollar Rate, kurs rupiah terakhir berada di level Rp 14.409 per dolar AS.

    Meski demikian, Fithra mengatakan kebijakan BI menaikkan suku bunga acuan sebenarnya tidak sepenuhnya salah. "ini soal kapan mengeluarkan pelurunya dan dosisnya seberapa besar."

    Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan investor asing yang masuk ke Indonesia belum cukup besar meski suku bunga acuan sudah dinaikkan.

    "Kan respons suku bunga bagaimana untuk bisa membuat pasar keuangan Indonesia khususnya di obligasi pemerintah yield-nya tetap menarik bagi investor asing, kan konteksnya seperti itu," ujar Perry di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa, 3 Juli 2018.

    Baca: Siap-siap, Suku Bunga Kredit BRI Naik Bulan Depan

    Harapannya, seiring dengan adanya lelang, investor asing bisa masuk ke dalam negeri dan mulai memacu stabilitas rupiah. Namun, lantaran ternyata investasi luar negeri yang masuk ternyata belum terlalu besar pasca kebijakan suku bunga itu, rupiah terus bergerak melemah.

    Apabila investasi asing yang masuk belum juga mencukupi, Perry mengatakan BI perlu melakukan intervensi valuta asing. Serta, jika ada investor asing yang menjual Surat Berharga Negara-nya, BI akan membeli SBN dari pasar sekunder. "Koordinasi ini yang perlu dilakukan," ujar Perry.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kampanye Imunisasi MR Fase 2 Luar Jawa Masih di Bawah Target

    Pelaksanaan kampanye imunisasi MR fase 2 menargetkan hampir 32 juta anak usia 9 bulan hingga 15 tahun di 28 provinsi di luar Pulau Jawa. Hingga 10 Sep