Menhub Minta Seluruh Kapal di Danau Toba Hilangkan Dek Atas

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memberikan keterangan saat meninjau pembangunan depo MRT di Lebak Bulus, Jakarta, Ahad, 1 Juli 2018. Rencananya ada 16 rangkaian kereta MRT yang akan beroperasi nanti. TEMPO/M. Taufan Rengganis.

    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memberikan keterangan saat meninjau pembangunan depo MRT di Lebak Bulus, Jakarta, Ahad, 1 Juli 2018. Rencananya ada 16 rangkaian kereta MRT yang akan beroperasi nanti. TEMPO/M. Taufan Rengganis.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meminta agar seluruh kapal penyeberangan di Danau Toba untuk menghilangkan dek paling atas. Sebab, menurut Budi, dek paling atas pada kapal tersebut dapat mengganggu kestabilan saat berlayar.

    "Iya, untuk yang di Danau Toba itu rekomendasi paling utama adalah menghapuskan dek atas karena memang dek paling atas itu membuat kestabilannya hilang," kata Budi di Hotel Merlynn Park, Jakarta, Jumat, 6 Juli 2018.

    BACA: 11 Hari Beroperasi, Ini Temuan Tim Adhoc di Danau Toba

    Selain itu Budi juga menyarankan agar kapal-kapal penyebrangan di Danah Toba menghilangkan teralis jendela pada kapal. Ia menilai teralis pada pada jendela kapal tersebut dapat mengganggu proses penyelamatan diri saat terjadi kecelakaan. "Karena itu menutup kemungkinan orang menyelamatkan diri, banyak orang yang terjebak nanti," ucap dia.

    Menurut Budi penghilangan dek atas dan teralis jendela itu baru akan dilakukan di wilayah Danau Toba. "Iya, walaupun di sana memang spesifik di Toba itu tapi kami akan terapkan semua. Tentunya akan kami lihat strukturnya seperti apa," ucap Budi.

    BACA: Kemenhub Segera Ambil Alih Pengawasan Pelayaran di Danau Toba

    Ia menjelaskan jika dalam suatu kapal masih terdapat dek atas, maka harus dipastikan hal tersebut tidak mengganggu keseimbangan saat berlayar. "Kalau ada dek atas tapi keseimbangan masih terjaga, komposisi vertikal dan horizontalnya itu masih baik, boleh saja katakanlah dia cuma 1 lantai ada dek atas, boleh," ucap dia.

    Dalam kasus tenggelamnya KM Sinar Bangun, Budi mengatakan kapal tersebut memiliki tiga lantai dek atas. Hal itu, menurut Budi, sangat berbahaya bagi pelayaran. "Ini tiga level, tinggi sekali. Sangat membahayakan."

    Baca berita tentang Danau Toba lainnya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.