Harga Pertamax Naik, ESDM Yakin Konsumen Tak Beralih ke Premium

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas melakukan uji kendaraan bermuatan Pertamax dan Pertamax Dex di rest area tol Cipali KM 102, Jawa Barat, Rabu, 6 Juni 2018. Unit motoris satgas BBM ini memiliki kapasitas angkut hingga 50 liter. TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas melakukan uji kendaraan bermuatan Pertamax dan Pertamax Dex di rest area tol Cipali KM 102, Jawa Barat, Rabu, 6 Juni 2018. Unit motoris satgas BBM ini memiliki kapasitas angkut hingga 50 liter. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta -Kenaikan harga BBM jenis Pertamax, diyakini tak akan berpengaruh terhadap permintaan premium. Menurut Djoko Siswanto, Dirjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), konsumen bahan bakar minyak (BBM) dengan RON tinggi, jenis pertamax ke atas, tidak akan berpindah lagi ke premium.

    “Konsumen pertamax ke atas itu enggak akan balik ke premium, mesinnya bisa rusak. (Risiko migrasi) enggak ada,” ujarnya Rabu, 4 Juli 2018.

    Menurutnya, kebijakan baru perhitungan harga jual eceran BBM dengan Peraturan Menteri ESDM No. 34/2018 lebih diarahkan untuk mempermudah dan mempercepat penyesuaian harga oleh badan usaha.

    Seperti diketahui, dalam beleid tersebut, harga jual eceran jenis BBM Umum ditetapkan oleh badan usaha dan wajib dilaporkan kepada Menteri melalui Dirjen. Padahal, dalam regulasi sebelumnya, penetapan atau perubahan harga ditetapkan oleh badan usaha setelah mendapat persetujuan dari menteri.

    BACA: Harga BBM Terbaru, Ini Daftar Harga Premium, Solar, dan Pertalite

    Adapun, perhitungan harga jual eceran jenis BBM Umum di titik serah untuk setiap liter ditetapkan oleh badan usaha dengan harga tertinggi ditentukan berdasarkan harga dasar ditambah pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) dengan margin paling tinggi 10% dari harga dasar.

    Saat ditanya terkait potensi kecenderungan badan usaha mematok margin batas atas yakni 10%, Djoko mengaku tidak hal ini tidak akan sepenuhnya terjadi. Menurutnya, badan usaha akan tetap memperhitungkan persaingan harga jual dan kemampuan masyarakat. Apalagi, laporan tetap diserahkan sebelum eksekusi perubahan harga.

    “Saya bilang ke dia (badan usaha), you kalau harganya gede-gede, nanti enggak laku. Enggak ada yang beli,” katanya.

    Baca jugaPer Hari Ini, Pertamina Kembali Naikkan Harga Pertamax

    Pada kenyataannya, beberapa badan usaha menaikkan harga jual BBM umum termasuk Pertamax yang berlaku awal Juli. Walaupun diakuinya, dengan beleid terdahulu pemerintah bisa mengintervensi secara regulasi karena adanya syarat persetujuan menteri. Hal inilah yang pemerintah lakukan saat menjaga harga jual selama Ramadan dan Idulfitri.

    Maklum, dalam aturan terdahulu, yakni Permen ESDM No. 21/2018, persetujuan pemerintah didasarkan pada pertimbangan situasi perekonomian, kemampuan daya beli masyarakat, dan/atau ekonomi riil dan sosial masyarakat.

    Regulasi baru terkait perhitungan harga jual eceran BBM muncul setelah beberapa bulan sebelumnya pemerintah merevisi Peraturan Presiden (Perpres) No. 191/2014. Dalam regulasi terbaru, BBM jenis premium masuk dalam penugasan di wilayah Jawa, Madura, dan Bali (Jamali). Padahal, secara regulasi sebelumnya, penugasan itu hanya berlaku untuk luar Jawa, Madura, Bali.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.