Rupiah Terus Melemah, BI Lakukan Intervensi Pasar

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Rupiah Dollar. ANTARA/Wahyu Putro A

    Ilustrasi Rupiah Dollar. ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia terus bersiaga di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Hingga sore hari ini, kurs rupiah masih melemah ketimbang pagi hari tadi.

    "Kami pastikan bahwa BI terus ada di pasar untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah, baik melalui intervensi di pasar valas maupun pembelian surat berharga negara di pasar sekunder," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa, 3 Juli 2018.

    Berdasar Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, pada pukul 16.00 WIB kurs terpantau pada posisi Rp 14.418 per dolar Amerika Serikat, setelah menginjak Rp 14.397 pada pagi hari tadi.

    Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Rentan Melemah Hari Ini

    Selain melakukan intervensi, Perry mengatakan hari ini juga ada lelang surat berharga negara. Harapannya, dari lelang itu para investor asing bisa masuk untuk menambah suplai dolar dan menstabilkan rupiah.

    Sebab Perry mengatakan meski suku bunga acuan BI sudah naik 50 basis poin menjadi 5,25 persen untuk memperkuat stabilitas rupiah, investor asing yang masuk ke Indonesia belum cukup besar.

    Padahal kebijakan menaikkan suku bunga acuan itu diambil untuk membuat pasar keuangan Indonesia, khususnya di obligasi pemerintah, yield-nya bisa tetap menarik bagi investor asing.

    Simak pula: Faktor Eksternal Bikin Nilai Tukar Rupiah Melemah Jadi Rp 14.397

    Sebelumnya, keputusan kenaikan suku bunga acuan BI tersebut juga diikuti dengan kenaikan Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 4,50 persen. Sedangkan Lending Facility juga naik sebesar 50 bps menjadi 6,00 persen.

    Perry mengatakan keputusan tersebut merupakan respons dari kondisi dari sisi likuiditas keuangan global yang terus mengetat beberapa waktu ke belakang. Selain itu, karena BI menangkap adanya ketidakpastian kondisi ekonomi global yang sangat tinggi.

    Perry juga menjelaskan keputusan tersebut untuk merespons ketegangan ekonomi atau perang dagang yang masih terjadi antara Amerika Serikat dengan Tiongkok. Belum lagi, Perry melanjutkan, keputusan itu juga merespons keputusan bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) yang diprediksi menaikkan suku bunga sebanyak empat kali dalam tahun ini dan diperkirakan membuat rupiah melemah.

    CAESAR AKBAR | DIAS PRASONGKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.