Heboh Delay AirAsia Berkepanjangan Juga Terjadi di Jepang

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat AirAsia. airbusgroup.com

    Pesawat AirAsia. airbusgroup.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Tak hanya penumpang dari maskapai penerbangan AirAsia dari Jakarta tujuan Jepang, tapi juga para pelancong mengeluhkan keterlambatan terbang atau delay dari Jepang tujuan Jakarta. Salah satu penumpang yang mengeluhkan delay keberangkatan pesawat dari Bandara Narita itu adalah Widyasari Ramayanti.

    Widyasari menceritakan bahwa penerbangan dari bandara Narita-Jepang ke bandara Cengkareng-Jakarta yang semula dijadwalkan berangkat pada Sabtu, 30 Juni 2018 pukul 11.30 diundur menjadi jam 22.40. "Kemudian udah naik pesawat, tapi gak berangkat. Akhirnya jam 00.15, pilot bilang tidak diizinkan terbang oleh pihak bandara Narita. Dan kita disuruh turun dari pesawat, keluar imigrasi," ucapnya seperti dikutip dari status Facebook pada 13 jam yang lalu.

    Baca: Kehebohan Penumpang AirAsia di Bandara Soekarno-Hatta Kena Delay

    Tak berhenti di situ, para penumpang pesawat lalu dipaksa keluar dari Bandara Narita dan kemudian diizinkan tidur di luar bandara dengan fasilitas sleeping bag. "Daebak AirAsia," kata Widyasari.

    Status itu disampaikan di Group Facebook bernama Backpacker International. Hingga kini postingan itu sudah direspons 715 oleh pengguna media sosial tersebut, dan sebanyak 64 kali dibagikan.

    Baca: AirAsia Tertarik Bangun Terminal 4 di Bandara Soekarno Hatta

    Sebagian besar netizen berempati akan kisah Widyasari dan mempertanyakan sebab delay berkepanjangan tersebut. Tak sedikit yang habis pikir dengan respons AirAsia yang hanya menyediakan sleeping bag sebagai alas tidur penumpang di luar bandara Narita. "Gak pantes banget penumpang hanya dikasih sleeping bag," kata Yunus Charles Djunaedy menanggapi status Widyasari tersebut.

    Namun ada juga netizen yang menanggapi solusi sleeping bag dari AirAsia itu semata-mata karena tidak ada fasilitas penginapapan seperti hotel di dekat Bandara Narita. "Mungkin dikasih sleeping bag karena AirAsia bilang sedang carikan akomodasi terdekat, tapi tetap saja jauh dari Narita."

    Ada netizen lainnya yang mengomentari status tersebut. Herdiar Nuur Afiif menduga bahwa delay berkepanjangan AirAsia itu semata-mata bukan karena cuaca buruk. Sebab dari pantauan aplikasi cuaca di ponselnya terlihat penerbangan dari dan menuju Bandara Narita terlihat normal.

    "Normal kok aktivitas Narita. Harusnya sih bukan karena weather. Lagian kalau sampai Narita keluar NOTAM tak boleh terbang, udah rame di berita internasional seharusnya," ujar Herdiar.

    Di Group Facebook itu tercatat tak hanya Widyasari yang mempermasalahkan delay AirAsia. Ada juga Anna Yulianta yang mengunggah video penjelasan dari pihak AirAsia soal keterlambatan penerbangan dari Cengkareng-Narita. 

    Selain itu ada Harry Isnaeni yang mengingatkan agar penumpang AirAsia tujuan Narita untuk memastikan kembali ke customer service soal penjadwalan ulang penerbangan. "Make sure lagi ke CS AA. Pengalaman hari ini dapat SMS kalau ada reschedule keberangkatan lebih awal jadi jam 21 dan dikonfirmasi by phone. Selang 3 jam kemudian dapat SMS lagi, reschedule lagi ke jam 21.50. Kali ini tanpa konfirmasi CS," ujarnya.

    Dengan banyaknya keluhan banyak penumpang itu, Head of Communication AirAsia Baskoro Adiwiyono mengatakan AirAsia X Indonesia meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan. "Kami akan senantiasa berupaya untuk memberikan bantuan kepada penumpang yang terkena dampak untuk memastikan permintaan terpenuhi," kata dia kepada Tempo, Ahad, 1 Juli 2018.

    Baskoro menjelaskan, pembatalan penerbangan menuju Jepang tersebut dikarenakan permasalahan operasional. Dia menuturkan AirAsia telah memberikan kompensasi atas kejadian pembatalan ini.

    Kompensasi tersebut, kata Baskoro berupa berupa akomodasi maupun penerbangan alternatif melalui hub regional Grup AirAsia di Kuala Lumpur dan Bangkok. "Penumpang yang penerbangannya dibatalkan berhak untuk memilih salah satu dari opsi layanan kompensasi," ujar dia.

    RR ARIYANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.