Rupiah Kian Melemah, Dua Industri Siap Naikkan Harga

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Harga BBM Turun, Industri Makanan Tumbuh 8,5 Persen

    Harga BBM Turun, Industri Makanan Tumbuh 8,5 Persen

    TEMPO.CO, Jakarta - Mata uang rupiah yang terus melemah terhadap Dolar Amerika Serikat membuat pengusaha was-was. Kekhawatiran paling kental terjadi pada sektor makanan dan minuman. 
     
    Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Adhi S Lukman mengatakan saat ini penguatan Dolar membuat keuntungan pelaku industri tergerus.  Sebab, sebagian bahan baku seperti terigu, kedelai, ataupun gula, yang dibutuhkan pengusaha berasal dari luar negeri. Sehingga pembeliannya menggunakan mata uang AS.
     
    Adhi menyayangkan momen ini yang berbarengan dengan penurunan penjualan makanan dan minuman selama libur lebaran. "Ini kondisi yang sangat tidak mengenakkan bagi kami. Dilematis juga," kata Adhi kepada Tempo, Jumat 29 Juni 2018.
     
     
    Dia berharap kelesuan Rupiah tidak berlangsung lama. Jika sebaliknya, maka pengusaha bakal menyelamatkan arus kasnya dengan menaikkan harga jual makanan dan minuman. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, harga makanan dan minuman sangat berpengaruh terhadap inflasi.
     
    Aksi menaikkan harga, Adhi berujar, juga tak bisa sembarangan. Sebab saat ini daya beli masyarakat tak begitu moncer. "Jadi kami juga takut justru backfire, malah menekan daya beli," tutur dia.
     
     
    Tekanan yang sama juga mendera pengusaha sektor industri aromatik dan plastik. Industri ini menggunakan produk minyak bumi dan turunannya sebagai bahan baku yang dibeli dengan Dolar AS. Wakil Ketua Asosiasi Industri Aromatik, Olefin, dan Plastik, Budi Santoso Sadiman, mengatakan pelemahan rupiah akan berimbas pada kenaikan harga barang. Sebab, bahan baku mencapai 90 persen dari komponen biaya.
     
    "Kenaikan biaya diteruskan ke harga produk ke konsumen," kata dia.
     
    Asosiasi tak begitu khawatir barang tak terserap optimal karena menurut dia permintaan produk plastik masih menggeliat. Sekretaris Jenderal Asosiasi, Fajar Budiono, justru cemas jika pelemahan terjadi di negara Asia Tenggara lainnya. "Bisa jadi banjir barang ke Indonesia dan kita bisa kalah saing," katanya.
     
    Ekonom dari Center for Indonesian Policy Studies Noviani Karina Saputri mengatakan rupiah bisa terus tertekan jika defisit neraca perdagangan terus memburuk. Bulan lalu, defisisitnya menyentuh US$ 1,52 miliar. "Trade balance dan nilai tukar saling mempengaruhi," katanya.
     
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.