Gunung Agung Erupsi, Wings Air dari Semarang Batal Terbang

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penerbangan perdana Wings Air di Bandara Banyuwangi. TEMPO/Ika Ningtyas

    Penerbangan perdana Wings Air di Bandara Banyuwangi. TEMPO/Ika Ningtyas

    TEMPO.CO, Jakarta - Satu penerbangan maskapai Wings Air dari Bandara Ahmad Yani, Semarang ke Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali, dibatalkan karena terdampak abu vulkanik dari erupsi Gunung Agung.

    "Penerbangan maskapai Wings Air IW 1802 dijadwalkan berangkat dari Semarang dengan tujuan Bandara Bali pukul 06.00 WIB dibatalkan," kata Communication and Legal Section Head Angkasa Pura I Bandara Ahmad Yani Dian Permata Sari di Semarang, Jawa Tengah, Jumat, 29 Juni 2018.

    Baca juga: Juli 2018, Wings Air Terbangi Surabaya-Sumenep 2 Kali Sehari

    Ia menjelaskan, pembatalan penerbangan Wings Air dengan penumpang berjumlah 69 orang tersebut dengan alasan keselamatan. "Bagi penumpang yang penerbangannya dibatalkan, bisa reschedule atau refund," ujarnya.

    Bandara Ngurah Rai ditutup sementara hari ini, Jumat, 29 Juni 2018, dari pukul 03.00 WITA hingga 19.00 WITA karena ruang udara bandara tertutup abu vulkanik Gunung Agung.

    Keputusan penutupan bandara itu dikeluarkan setelah melalui rapat koordinasi dengan Otoritas Bandara Wilayah IV, Airnav Indonesia, BMKG, maskapai penerbangan dan Ground Handling pada Jumat dini hari, 29 Juni 2018.

    Baca juga: Awal Juli 2018, Wings Air Buka Rute Langsung Surabaya-Labuan Bajo

    Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan kemudian mengeluarkan notice to airman (Notam) atau pemberitahuan kepada seluruh penerbangan di dunia terkait penutupan itu dengan nomor A-2551/18.

    Gunung Agung mengalami erupsi pada Kamis, 28 Juni 2018, dan mengeluarkan abu vulkanik sehingga berbahaya bagi penerbangan. Hingga saat ini Gunung Agung masih berstatus Siaga (Level 3).

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).