Tambah Armada dan Rute, Lion Air Butuh Tambahan Pilot

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Umum Lion Air Edward Sirait menjelaskan soal pemecatan 14 pilotnya di kantor Lion Air, 3 Agustus 2016. TEMPO/Bagus Prasetiyo

    Direktur Umum Lion Air Edward Sirait menjelaskan soal pemecatan 14 pilotnya di kantor Lion Air, 3 Agustus 2016. TEMPO/Bagus Prasetiyo

    TEMPO.CO, Tangerang - Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait mengatakan, seiring bertambahnya armada dan pengembangan rute, maskapai penerbangan tersebut akan terus merekrut pilot.

    "Tidak cukup sampai di sini, kami masih tetap merekrut pilot, baik dari internal maupun dari luar," ucap Edward menjawab pertanyaan Tempo saat ditemui di Bandara Soekarno-Hatta, Kamis, 28 Juni 2018.

    Baca juga: Lion Air Group Klaim OTP Meningkat 5 Persen Tahun Ini

    Edward berujar, Lion Group saat ini memiliki 4.300 pilot, 1.800 engineer, 7.250 awak kabin, dan mekanik 2.640. Menurut Edward, untuk operasi armada saat ini, jumlah tenaga di Lion Group masih cukup. Tapi, karena armadanya terus tumbuh, Lion membutuhkan tambahan pilot.

    Selain itu, tutur dia, mencetak pilot harus terus dilakukan karena, seiring berjalannya waktu, pilot senior memasuki masa pensiun. Selain menerima pilot dari luar, Lion Air mencetak pilot sendiri melalui sekolah penerbangan Angkasa Aviation Academy milik perusahaan penerbangan tersebut. "Kami targetkan bisa cetak pilot 120-150 orang. Tapi ini tidak cukup, makanya terus terima pilot baru."

    Simak pula: Akibat Cuaca Buruk, Pesawat Lion Air Ini 2 Kali Gagal Terbang

    Agar memenuhi standar pilot yang dibutuhkan, Lion Air Group saat ini melengkapi fasilitas sekolah penerbangan dan awak kabin dengan sejumlah fasilitas pendukung, seperti Lion Training. "Kami bangun gedung untuk tes bahasa Inggris khusus pilot, standar internasional kami terapkan, mes pramugari gratis."

    Lion Air Group juga menerima pilot dari luar dengan mekanisme tes yang ketat. "Kami merekrut pilot asing dan dari sekolah penerbangan lain dengan standard test yang kami tetapkan. Syaratnya, harus kapten. Kami terima terus. Pilot harus masuk standar internasional tak bisa ditawar-tawar," tutur Edward.

    Saat ini, Lion Air Group terus melakukan penambahan pesawat baru untuk memperkuat rute baru, baik domestik maupun internasional. Perusahaan penerbangan berlambang singa terbang ini menargetkan, pada 2019, akan datang 54 pesawat baru. "Semuanya baru dari pabrik. Ada ATR, Max, dan Airbus A330," kata Edward.

    Edward menjelaskan, kedatangan pesawat baru ini akan dilakukan secara bertahap. Pada 2018, 23 pesawat akan didatangkan. "Empat sudah, tinggal 19 pesawat lagi," ucap Edward. Tahun depan, ada 31 pesawat yang akan didatangkan. Jadi, sampai 2019, armada Lion Air akan diperkuat 54 pesawat baru.

    Selain itu, kata Edward, perusahaan berencana menghadirkan pesawat wide body, termasuk yang sedang uji coba terbang A330-900 NEO dari perusahaan penerbangan asal Portugal. "Sedang kami studikan, ditawari Airbus, ini sejalan dengan rencana kami ekspansi ke Eropa," ujar Edward.

    Armada baru ini, tutur Edward, akan memperkuat rute domestik dan internasional yang telah disiapkan Lion Air Group. "Ada ke Thailand dan Malaysia, juga Eropa. Pesawat berbadan besar diperuntukkan penerbangan internasional."

    Lion Air Group akan memulai rute internasional baru pada Oktober-November-Desember 2018 dengan melakukan penerbangan perdana ke Jepang menggunakan pesawat neuro body, max, dan wide body. "Tanggal 1 November terbang ke Narita-Denpasar, dilanjutkan 15 Desember ke Nagoya," kata Edward.

    Selain itu, Lion Air Group melakukan penambahan frekuensi penerbangan Surabaya-Sumenep menjadi dua kali sehari. "Market rute ini berkembang bagus," ucap Edward.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.