Minggu, 19 Agustus 2018

Ciputra Ekspansi ke Tiga Negara Ini, Kembangkan Kota Baru

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja melayani calon pembeli rumah dalam pameran Real Estate Indonesia di Jakarta, 5 Mei 2015. Penjualan properti tahun ini diprediksi menurun 50 persen dibanding tahun sebelumnya. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Pekerja melayani calon pembeli rumah dalam pameran Real Estate Indonesia di Jakarta, 5 Mei 2015. Penjualan properti tahun ini diprediksi menurun 50 persen dibanding tahun sebelumnya. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta -Ciputra Group menggarap proyek di luar negeri dengan proyek Ciputra Hanoi International City sebagai proyek paling matang. Terhitung hingga kini ada 3 proyek di tiga negara berbeda yang sedang digarap oleh Ciputra melalui kepemilikan minoritas saham di International City Development Pte Ltd (ICD).

    Direktur Ciputra Group Agussurja Widjaja mengatakan saham Ciputra Development memang masih kecil sekitar 7 persen sisanya holding company di Singapura, tapi hal itu cukup membuat menjadi perusahaan multinasional.

    Baca: Rumah DP Rp0 Anies-Sandi, Ciputra: Jangan Timbulkan Kegaduhan

    Agus menyebut dengan total pengembangang seluas 300 ha, Ciputra telah membangun 1.200 unit rumah tapak dari totak 2.000 unit dan 15 menara apartemen dari total 50 menara. Mereka menggandeng BUMD Hanoi untuk membentuk perusahaan patungan, Citra Westlake City Dev Co. Ltd.

    “Pasar di Vietnam sedang kuat-kuatnya, penjualan di sana kuat karena kami termasuk pengembang pionir di sana. Selain itu, siklus properti yang berbanding terbalik dengan kondisi di Indonesia,” katanya, Minggu, 24 Juni 2018.

    Ciputra sebagian besar akan menggarap hunian vertikal karena kebijakan pemerintah Vietnam yang mendorong pembangunan ke atas guna pemanfaatan lahan yang efisien. Harga rumah tapak yang dijual mulai dari US$ satu juta, sedangkan apartemen dimulai dari US$ 100.000 – US$ 350.000.

    “Sekarang kami sedang menjual 3 menara apartemen dan masih mengejar 800 unit rumah tapak. Izin di sana sama seperti di Tiongkok untuk rumah tapak dibatasi sehingga sukar jika membangun landed,” katanya.

    Setelah Hanoi, Ciputra masuk ke Kamboja pada 2007, lewat Grand Phnom Penh International City. Perusahaan mengembangkan 260 ha dengan alokasi lahan golf 60 ha, sisanya 200 ha residensial rumah tapak saja dan tidak ada apartemen. Ciputra telah membangun waterpark, golf dan rumah yang harganya paling rendah US$100.000 hingga US$ 600.0000.

    Berbeda dengan Vietnam, lahan di Kamboja masih tergolong murah, sehingga kata Agus lebih bermanfaat apabila dibangun rumah tapak. Selanjutnya, proyek termuda mereka adalah Shenyang China, dengan total pengembangan lahan seluas 300 ha. Ciputra baru mengembangkan satu kluster rumah tapak seluas 35 ha untuk tahap pertama. Hunian di proyek ini dipasarkan dengan harga mulai US$ 100.000 - US$ 300 juta. Di proyek ini, rencananya tidak hanya akan dibangun landed house tetapi juga akan ada apartemen dan komersial di tahap berikutnya untuk lima tahun mendatang.

    Menurutnya kondisi penjualan dan siklus properti di Kamboja saat ini mirip Vietnam. Berbeda dengan China sebagai negara maju, banyak stimulus yang dikeluarkan negaranya. Stimulus itu ungkapnya bisa memberikan efek negatif dan positif kepada pengembang bergantung pada kondisinya.

    “Di China siklusnya udah di puncak pertengahan, kalau Indonesia baru mulai naik dia udah lebih naik, tapi belum peak. Tak hanya itu, sebagai negara sosialis pemerintah banyak kebijakan bersifat softening karena harga rumah terlalu tinggi dianggap tidak pro kepada rakyat,” ungkapnya.

    Secara keseluruhan perusahaan masih bisa meraup Rp 3 triliun hingga akhir tahun ini dengan pertumbuhan sekitar 20-30 persen dari tahun sebelumnya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika Liku Crazy Rich Asians

    Film komedi romantis Crazy Rich Asians menarik banyak perhatian karena bersubjek keluarga-keluarga superkaya Asia Tenggara. Berikut faktanya.