Jumat, 21 September 2018

Studi Perilaku Ramadan 2018: Lailatul Obral sampai Zakat Digital

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lebaran 2018 masih tiga bulan lagi, namun sejumlah toko di pusat-pusat perbelanjaan sudah mulai menawarkan diskon untuk koper dari berbagai merek. Diskon yang ditawarkan pun tak tanggung-tanggung mulai dari 50 persen hingga 70 persen untuk koper berbagai ukuran di Mall Gandaria City, Jakarta Selatan, 17 Maret 2018. TEMPO/Dewi Nurita

    Lebaran 2018 masih tiga bulan lagi, namun sejumlah toko di pusat-pusat perbelanjaan sudah mulai menawarkan diskon untuk koper dari berbagai merek. Diskon yang ditawarkan pun tak tanggung-tanggung mulai dari 50 persen hingga 70 persen untuk koper berbagai ukuran di Mall Gandaria City, Jakarta Selatan, 17 Maret 2018. TEMPO/Dewi Nurita

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat peredaran uang di Indonesia selama momen Ramadan hingga lebaran meningkat sebanyak 15,3 persen atau menjadi sekitar Rp 188,2 triliun dibandingkan tahun sebelumnya. Tak hanya peredaran uang, Kementerian Perhubungan juga mencatat perpindahan manusia saat arus mudik juga meningkat untuk seluruh jenis moda trasnportasi.

    Arus uang dan perpindahan manusia yang meningkat ternyata juga diikuti sejumlah tren konsumsi masyarakat. Apalagi, tahun ini permintaan pemerintah untuk memberikan tunjangan hari raya (THR) digadang-gadang bakal mampu mendongkrak daya beli dan konsumsi di masyarakat.

    Baca: Daftar Produk Paling Laris di Shopee Selama Ramadan

    Inventure, salah satu perusahaan yang bergerak di bidang riset dan konsultasi pemasaran baru-baru ini merilis sebuah studi mengenai perilaku konsumsi masyarakat selama Ramadan hingga Lebaran 2018. Studi tersebut diberi judul "Lebaran Zaman Now, Perilaku Mudik dan Strategi Pemasaran."

    Dari beberapa perilaku konsumen yang dicatat oleh Inventure, ada lima perliaku yang menarik diperhatikan.

    1. Lebaran adalah Liburan

    Menurut Inventure, momen lebaran dan mudik kali ini juga dimanfaatkan untuk liburan. Apalagi, dengan jatah cuti libur yang mencapai satu minggu, bakal dimanfaatkan pemudik berserta keluarga untuk mengeksplorasi destinasi wisata yang ada di daerahnya. Hal ini pula yang kemudian dimanfaatkan oleh maskapai penerbangan dan juga hotel-hotel di daerah untuk membuat paket wisata lebaran.

    Baca: 18 Ribu UMKM Didorong Berjualan Online Selama Ramadan

    2. Lailatul Obral hingga Online Night Sale

    Setiap menjelang lebara atau 10 hari menjelang bulan Ramadan berakhir, mal-mal dan pusat perbelanjaan di kota besar seperti Jakarta selalu mengelar acara late night sale atau diskon tengah malam. Acara ini biasanya selalu menjadi ajang bagi pemburu diskon untuk mencari baju dan pakaian dengan harga miring.

    Tak hanya mal-mal yang menggelar late night sale, tak ketinggalan para pemain online marketplace atau e-commerce juga menggelar hal serupa. Bedanya, jika pembeli late night sale di mal-mal harus antre, maka pembeli di e-commerce hanya perlu mempersiapkan kuota internet yang cukup dan kencang serta menyiapkan kopi untuk begadang memburu barang yang dicari.

    Dari sana terlihat adanya perubahan pola perilaku konsumsi. Bulan suci Ramadan yang seharusnya menjadi ajang menahan hawa nafsu justru digunakan untuk berbelanja yang menggila demi penampilan optimal. Saat harus i'tikaf mengejar Lailatur Qodar namun justru tergoda mengejar Lailatul Obral.

    3. Mudik Sama Dengan Pamer Kesuksesan

    Bagi sebagian orang, momen Lebaran dan mudik kini dimanfaatkan menjadi ajang pamer kesuksesan. Menurut Inventure, rasanya tidak lengkap saat lebaran jika belum pamer mobil baru, gawai baru bahkan pasangan baru.

    Studi Nielsen selama bulan Ramadan menemukan adanya peningkatan kepemilikan smartphone sebesar 7 persen dan juga rencana untuk membeli smartphone mengalami peningkatan 4 kali lipat. Selain itu, kepemilikan mobil meningkat 21 persen dan rencana untuk membeli mobil juga meningkat 3,5 kali lipat.

    4. Meski Mahal, Mudik adalah Kewajiban Sosial

    Mudik sebagai sebuah perilaku membutuhkan suntikan dana yang tak sedikit. Misalnya, untuk transporatasi, oleh-oleh kerabat di kampung, angpau untuk keluarga, hingga ongkos untuk berlibur dan kuliner. Celakanya,harga-harga barang dan konsumsi saat ramdan hingga lebaran seringkali menjadi selangit.

    Tak usah heran jika gaji dan tunjangan hari raya yang dibayar pun hanya numpang lewat. 
    Tapi semua itu tak menjadi masalah, karena mudik adalah “kewajiban sosial” yang harus
    dijalankan. Begitu anggaran defisit, kalau perlu ngutang atau menggadaikan perhiasan. Karena itu tak perlu heran, jika rumah gadai dan toko perhiasan penuh dengan nasabah.

    5. Zakat Zaman Now Gunakan Fintech

    Di jaman munculnya financial technology (fintech), urusan membayar zakat kini semakin mudah dan techy. Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) misalnya, tahun ini meluncurkan M-cash untuk memudahkan muslim zaman now membayar zakat. Baznas juga menggandeng Go-Pay meluncurkan layanan pembayaran zakat non tunai dengan QR Code.

    Tak ketinggalan, digital payment milik Telkomsel, TCash bersama Rumah Zakat juga menghadirkan fitur donasi digital yang dimanfaatkan banyak pengguna ponsel di bulan Ramadan ini. Sementara itu, OVO berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa memberikan layanan aplikasi pembayaran zakat yang mudah, cepat dan aman.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Richard Muljadi Ditangkap Ketika Menghirup Kokain, Ini Bahayanya

    Richard Muljadi ditangkap polisi ketika menghirup kokain, narkotika asal Kolombia yang digemari pemakainya karena menyebabkan rasa gembira.