2019, Jalur Penerbangan Ditargetkan Bebas Balon Udara Liar

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peserta menerbangkan balon udara dalam Festival Balon Udara Ponorogo di Lapangan Jepun, Ponorogo, Jawa Timur, Kamis, 21 Juni 2018. Festival ini digelar oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. TEMPO/Nofika Dian Nugroho

    Peserta menerbangkan balon udara dalam Festival Balon Udara Ponorogo di Lapangan Jepun, Ponorogo, Jawa Timur, Kamis, 21 Juni 2018. Festival ini digelar oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. TEMPO/Nofika Dian Nugroho

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau AirNav Indonesia menargetkan, pada 2019, semua balon udara liar bisa dikendalikan lewat penyelenggaraan festival.

    Direktur Utama AirNav Indonesia Novie Riyanto mengatakan, sejauh ini, pihaknya sudah mendapat keluhan dari sejumlah pilot terkait dengan keberadaan balon udara liar di angkasa. Tercatat ada 71 laporan dari pilot, baik pilot lokal maupun pilot asing, terkait dengan penemuan balon liar di jalur penerbangan.

    Baca juga: Ratusan Balon Udara Disita di Wonosobo dan Ponorogo

    Dia berujar, pihaknya juga sudah menerbitkan notice to airmen atau notam kepada pilot untuk bisa menghindari balon udara liar. "Yang komplain bukan hanya pilot lokal, tapi juga asing, karena wilayah udara kita banyak crossing penerbangan. Mereka komplain keras. Kalau didiamkan, sanksinya berat," katanya di Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat, 22 Juni 2018.

    Baca juga: Kemenhub: Penerbang Balon Udara Paling Banyak dari Jawa Tengah

    Sebagaimana diketahui, balon udara liar berbahaya bagi penerbangan karena bisa bertabrakan dengan pesawat udara. Hal itu mengganggu fungsi aerodinamika dan kemudi. Selain itu, tabrakan dengan balon udara mengakibatkan kerusakan serius pada mesin pesawat.

    Baca juga: Airnav Indonesia: Balon Udara Tradisional Tak Terdeteksi

    Penggunaan balon udara sudah diatur Kementerian Perhubungan lewat Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 40 Tahun 2018. Dalam beleid tersebut, pihak yang melepaskan balon udara secara luar biasa diganjar sanksi 2 tahun penjara dan denda Rp 500 juta.

    Baca juga: Kemenhub: Masyarakat Tetap Bisa Terbangkan Balon Udara, Asalkan...

    Novie mengatakan, untuk menjamin keselamatan penerbangan, AirNav Indonesia menggelar festival balon udara di sejumlah kota, antara lain Ponorogo, Wonosobo, dan Pekalongan. Festival balon udara menjadi wahana bagi pelestarian tradisi dan menjaga keselamatan penerbangan. Dalam festival tersebut, balon udara dilepaskan dengan tali tambat sepanjang 150 meter, sehingga tidak membahayakan penerbangan.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.