Jasa Raharja Santuni Dua Keluarga Korban Tewas Kapal Tenggelam

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jasa Raharja Bayar Santunan Korban Meninggal KM Sinar Bangun

    Jasa Raharja Bayar Santunan Korban Meninggal KM Sinar Bangun

    TEMPO.CO, Jakarta- Direktur Utama PT Jasa Raharja, Budi Rahardjo mengatakan sudah ada dua korban meninggal dunia, Kapal Mesin Sinar Bangun, yang disantuni oleh Jasa Raharja. "Satu korban lagi masih dalam proses identifikasi," kata dia kepada Tempo, Rabu, 20 Juni 2018.

    Budi mengatakan hari ini, Jasa Raharja memberikan santunan Rp 50 juta kepada ahli waris dari Fahrianti, yang beralamat di Kota Binjai, Sumatera Utara.

    BACA: Cari Korban Hilang, 15 Penyelam Dikirim ke Danau Toba

    Sebelumnya, Jasa Raharja membayarkan santunan kepada ahli waris, dari korban yang bernama Tri Suci Wulandari. "Santunan diberikan pada Selasa, 19 Juni, kurang dari 24 jam setelah kejadian," tutur Budi.

    Selain santunan untuk korban meninggal dunia, Jasa Raharja juga memberikan surat jaminan untuk para korban luka. Hingga saat ini, ada 18 korban yang sedang dirawat.

    BACA: Basarnas Temukan Koordinat Tenggelamnya KM Sinar Bangun

    Budi menuturkan timnya sudah siaga di lokasi kecelakaan untuk terus memantau situasi di sana. "Kami terus memantau perkembangan pencarian dan penemuan para korban dan melakukan pendataan setiap saat," ujar Budi.

    Terbaliknya kapal KM Sinar Bangun terjadi saat kapal membawa puluhan penumpang berangkat dari pelabuhan Simanindo Samosir menuju pelabuhan Tiga Ras Simalungun, Senin, 18 Juni 2018 sekitar Pkl 17.15 WIB. Kapal tenggelam diduga karena hantaman ombak besar di Danau Toba sehingga penumpang kapal beserta muatannya ikut tenggelam.

    Berdasarkan laporan Divisi Humas Polri ada 178 orang yang dinyatakan hilang, yang ikut kapal tersebut. Ketua Posko Harian Mudik Nasional Kementerian Perhubungan, Arif Toha mengatakan seharusnya manifes penumpang dilaporkan untuk mendapatkan izin berlayar.

    BACA: Kapal Tenggelam di Danau Toba Diduga Akibat Angin Kencang

    Dilaporkannya manifes penumpang oleh pengelola kapal ke otoritas keselamatan pelayaran, kata Arif, merupakan standar operasional prosedur (SOP). Jika tidak, hal tersebut merupakan pelanggaran. "Penanggung jawab di pelayaran ada di nahkoda. Yang punya tanggung jawab utama keselamatan kapal ya nahkoda," tutur dia, Selasa 19 Juni 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.