Senin, 24 September 2018

Kemenhub Akan Naikkan Tarif Batas Atas Penerbangan, Jika...

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi penerbangan. TEMPO/Ifa Nahdi

    Ilustrasi penerbangan. TEMPO/Ifa Nahdi

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan akan menaikkan tarif batas atas penerbangan apabila harga bahan bakar avtur serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami kenaikan 10 persen.

    "Kalau sudah kenaikan bahan bakar dan mata uang, masukan dalam rumus ya 10 persen baru kita naikkan, ini belum," kata Direktur Angkutan Udara Maria Kristi Endah Murni saat ditemui di Jakarta, Kamis, 7 Juni 2018.

    Baca jugaMenhub Jamin Tak Ada Maskapai Pakai Tarif di Atas Batas Atas

    Ia menyebutkan, pada dua hingga tiga minggu lalu kenaikan sudah mencapai 6,67 persen. "Naik 10 persen baru kita naikkan, ini 'kan tidak, tiga minggu lalu baru 6,67 persen, dihitung dari total biaya operasional," katanya.

    Ia mengatakan terutama saat musim mudik, maskapai tengah mengejar tarif batas atas. "Sekarang kan sudah bukan tarif batas bawah yang dikejar, Lebaran ini tarif batas atas," katanya.

    Baca jugaMaskapai Ingin Tarif Batas Atas dan Bawah Penerbangan Dinaikkan

    Terkait tarif batas bawah, Kristi mengatakan pihaknya belum akan menaikkan tarif batas bawah 40 persen dari tarif batas atas, meskipun saat ini kenaikan harga avtur sudah mencapai 40 persen.

    "Belum, itu per tiga bulan kita hitung, avtur 40 persen itu untuk double dengan mata uang AS, tapi belum sampai," katanya.

    Kristi mengatakan pihaknya juga telah menanggapi permintaan maskapai untuk menaikkan tarif batas bawah penerbangan sebesar 40 persen dari tarif batas atas yang saat ini masih 30 persen. "Sudah kita jawab, tapi kayaknya enggak masuk di hitungan dan maskapai juga mengerti," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kampanye Imunisasi MR Fase 2 Luar Jawa Masih di Bawah Target

    Pelaksanaan kampanye imunisasi MR fase 2 menargetkan hampir 32 juta anak usia 9 bulan hingga 15 tahun di 28 provinsi di luar Pulau Jawa. Hingga 10 Sep