Rizal Ramli: Dawam Rahardjo Seorang Ekonom Kerakyatan

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dawam Rahardjo Jakarta 27 Januari 2006

    Dawam Rahardjo Jakarta 27 Januari 2006

    TEMPO.CO, Jakarta -Mantan Menko Kemaritiman serta Menko Ekuin Rizal Ramli mengenang almarhum Dawam Rahardjo sebagai seorang ekonom kerakyatan.

    "Ia cendekiawan muslim, tokoh pluralis dan seorang muslim yang berani. Dia tidak gentar saat sebagian umat Islam di Indonesia mencela karena pembelaannya terhadap kaum minoritas di Indonesia," ujar Rizal dihubungi di Jakarta, Kamis dini hari, 31 Mei 2018.

    Baca juga: Dawam Rahardjo Dimakamkan di Kalibata Hari Ini Bakda Zuhur

    Dawam meninggal di di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih, Jakarta Pusat Rabu malam sekitar pukul 21.55 WIB. Dawam tutup usia di umur 76 tahun. Ia meninggal setelah menderita penyakit komplikasi, mulai dari diabetes, jantung, hingga stroke.

    Rizal mengatakan pembelaan Dawam terhadap kaum minoritas dan marjinal selalu berada dalam koridor kepantasan dan rasional.

    Semasa hidupnya Dawam banyak menulis buku antara lain berjudul Esai-esai ekonomi politik (1983), Deklarasi Mekah: Esai-esai ekonomi Islam (1987), Etika bisnis dan manajemen (1990), Habibienomics: Telaah pembangunan ekonomi (1995), Paradigma Alquran: Metodologi dan kritik sosial (2005), serta Nalar Politik Ekonomi Indonesia (2011).

    Dawam pernah bekerja sebagai Staf di Departemen Kredit Bank of America, Jakarta pada 1969. Tapi setelah dua tahun bekerja di perusahaan tersebut, ia memutuskan berhenti. Selepas dari Bank of America, Dawam kemudian bergabung di LP3ES (Lembaga Penelitian dan Pembangunan Ekonomi-Sosial) sebagai staf peneliti.

    Lambat laun posisinya merangkak naik menjadi Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan hingga akhirnya menjadi direktur. Pada saat di LP3ES inilah, pengetahuan Dawam Rahardjo tentang ekonomi kerakyatan bertambah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.