Rabu, 17 Oktober 2018

Sri Mulyani: Pemerintah Kucurkan Rp 39 T untuk Subsidi Energi

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (Ki-ka) Menteri Keuangan Sri Mulyani, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, serta Ketua Dewan Komisaris Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso saat konferensi pers di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Jakarta, 11 Mei 2018. Tempo/Adam Prireza

    (Ki-ka) Menteri Keuangan Sri Mulyani, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, serta Ketua Dewan Komisaris Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso saat konferensi pers di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Jakarta, 11 Mei 2018. Tempo/Adam Prireza

    TEMPO.CO, Jakarta -Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan hingga April 2018, pemerintah telah membayar subsidi energi untuk listrik dan bahan bakar minyak atau BBM sebesar Rp39,2 triliun dari total realisasi belanja nonkementerian/lembaga sebesar Rp165,1 triliun. Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp 26 triliun sudah dibayarkan ke Pertamina sebesar Rp26 triliun termasuk kurang bayar Rp12,3 triliun dan subsidi listrik sebesar Rp13,2 triliun termasuk kurang bayar Rp3 trilun.

    Sri Mulyani mengklaim pemerintah selalu konsisten membayar subsidi energi untuk mendukung pembiayaan Pertamina dan PLN selaku BUMN yang menyediakan kebutuhan energi untuk masyarakat.

    Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani menambahkan, sisa utang subsidi energi yang sudah dibayar pemerintah kepada Pertamina sebesar Rp22 triliun dan PLN sebesar Rp7,3 triliun. Adapun sisanya akan dibayarkan secara bertahap sampai periode 2019.

    “Sisa utang subsidi terus kita bayar, kurang bayar subsidi energinya akan dilunasi hingga 2019 mendatang,” ujarnya, Kamis, 17 Mei 2018.

    Adapun hasil kinerja APBN sampai dengan April 2018 melaporkan dari asumsi makro hingga April, inflasi tercatat 3,4 persen, tingkat suku bunga SPN 3 bulan 4,1 persen, nilai tukar Rp 13.631 dan harga minyak mentah US$64,1 per barel. Adapun lifting minyak tercatat 750,3 ribu barel per hari dan lifting gas 1.155,9 ribu per barel.

    Selanjutnya sejumlah capaian dari kinerja APBN sampai April 2018. Dari sisi defisit anggaran tercatat Rp 55,1 triliun atau turun dibandingkan dengan periode sebelumnya Rp 72,2 triliun sedangkan defisit keseimbangan primer sebesar Rp24,2 triliun atau lebih tinggi dari tahun lalu.

    Dari sisi belanja negara hingga April lalu, menurut Sri Mulyani, sudah mencapai Rp 582,9 triliun atau 26,3 persen dari total anggaran belanja Rp2.220 triliun. Belanja pemerintah pusat untuk kementerian/lembaga (K/L) ataupun non-K/L sebesar Rp331,0 triliun dan transfer dana ke daerah dan dana desa sebesar Rp251,9 triliun.

    Sementara dari sisi total penerimaan negara selama 4 bulan ini mencapai Rp 527,8 triliun atau 27,9 persen dari target penerimaan Rp1.894 triliun sepanjang tahun ini.

    Penerimaan dari pajak dan bea cukai mencapai Rp416,9 triliun dan penerimaan nonpajak sebesar Rp 109,9 triliun dan hibah Rp1,0 triliun. Pemerintah memastikan dengan belanja dan pendapatan yang baik, realisasi pembiayaan anggaran telah terealisasi sebesar 57,9% atau Rp 188,7 triliun dari targenya.

    Rinciannya, untuk pembiayaan utang Rp 187,2 triliun atau 46,9 persen terhadap APBN yang secara tahunan meningkat 3,3 persen. Lalu, pemberian pinjaman Rp1,5 trilun.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan Suap Izin Meikarta

    KPK menetapkan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin sebagai tersangka dugaan kasus suap izin proyek pembangunan Meikarta. Ini sekilas fakta kasus itu.