Senin, 24 September 2018

Stimlog dan Poltekpos Tandatangani MoU dengan Pelaku Industri Logistik

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana penandatanganan kesepakatan bersama (Memorandum of Understanding -MoU) antara lembaga pendidikan milik Yayasan Pendidikan Pos Indonesia dengan sejumlah perusahaan logistik nasional pada hari ini, 15 Mei 2018, di Gedung Ali Wardana, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Jakarta.

    Suasana penandatanganan kesepakatan bersama (Memorandum of Understanding -MoU) antara lembaga pendidikan milik Yayasan Pendidikan Pos Indonesia dengan sejumlah perusahaan logistik nasional pada hari ini, 15 Mei 2018, di Gedung Ali Wardana, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Jakarta.

    INFO BISNIS - Dua institusi pendidikan yang dimiliki oleh Yayasan Pendidikan Bhakti Pos Indonesia (YPBPI), yaitu Sekolah Tinggi Manajemen Indonesia (Stimlog) dan Politeknik Pos Indonesia (Poltekpos) masing-masing menandatangani kesepakatan bersama (Memorandum of Understanding -MoU) dengan sejumlah perusahaan logistik nasional, serta Indonesian Supply Chain and Logistics Institute (ISLI) pada hari ini, 15 Mei 2018, di Gedung Ali Wardana, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Jakarta.

    Beberapa perusahaan logistik yang menandatangani MoU dengan Poltekpos dan Stimlog antara lain adalah PT JNE Express, Kamadjaja Logistics,  dan Ark Logistics & Transport.  Kesepakatan bersama ini menandai sinergi  dan kerja sama antara dunia pendidikan dengan dunia industri logistik. MoU ini merupakan bagian dari upaya untuk mempersiapkan sumber daya manusia bidang logistik yang sesuai dengan kompetensi dan kebutuhan industri logistik masa depan yang sarat dengan pemanfaatan teknologi baru.

    Sejalan dengan tujuan itu, pada kesempatan yang sama Yayasan Pendidikan Bhakti Pos Indonesia bekerja sama dengan Kemenko Perekonomian RI juga menggelar  workshop yang membahas tema “Transformasi Digital dalam Industri Logistik, dan Mendesain Ulang Penyiapan Sumber Daya Manusia Logistik di Indonesia”.

    Penandatanganan MoU serta workshop ini dihadiri oleh Ketua Yayasan Pendidikan Bhakti Pos Indonesia Hariyanto, Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Gilarsi W. Setijono, yang bertindak sebagai moderator, Plt. Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Kemenko Perekonomian RI, Elen Setiadi, Asisten Deputi Pengembangan Logistik Nasional Kemenko Perekonomian RI, Erwin Raza serta Direktur Poltekpos Agus Purnomo, dan Ketua Stimlog Nurlaela Kumala Dewi

    Hadir sebagai pembicara antara lain Direktur Utama JNE Express yang juga Ketua Umum Asperindo, Mohammad Feriadi, CEO Kamadjaja Logistics, Ivan Kamadjaja, Pendiri Ark Logistics & Transport,  Rahim Tahir, Direktur Utama Cipta Krida Bahari, Imam Sjafei, President of Indonesia Supply Chain and Logistics Institute I Nyoman Pujawan, Direktur ALFI Institute Iman Gandhi, dan Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia, Zaldy Ilham Masita.

    Ketua YPBPI Hariyanto menegaskan, penyelenggaraan workshop ini bertujuan antara lain untuk mendapatkan gambaran tentang industri logistik di Indonesia dan tren perkembangannya di masa depan. Juga, mendapatkan gambaran mengenai kualifikasi dan kompetensi sumber daya manusia bidang logistik seperti apa yang dibutuhkan industri logistik di masa depan. “Kemudian, mencari strategi dan metode belajar seperti apa yang efektif untuk dapat mencapai kompetensi yang dibutuhkan nanti,” jelas Hariyanto.

    Sementara itu, menurut Direktur Utama Pos Indonesia, Gilarsi W. Setijono, wajah bisnis logistik saat ini sudah sangat berubah karena pemanfaatan kemajuan teknologi. Penggunaan teknologi dan inovasi teknologi ini, bahkan menyebabkan disrupsi atau ‘mengacaukan’ skema bisnis logistik yang selama ini ada.

    Peran manusia mulai diminimalkan, pengurangan tenaga kerja yang melakukan kerja-kerja repetitif dipergudangan misalnya, bukan tak mungkin ke depan akan dihilangkan. Sebaliknya, penggunaan teknologi sudah menjadi hal yang tak bisa dihindari. Mulai dari penggunaan internet dan pemanfaatan big data untuk mempercepat logistik berbasis data, pemanfaatan robot pada proses sorting kiriman, sampai penggunaan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau drone di gudang penyimpanan atau pengambilan barang. Pelaku industri mau tak mau harus ikut mengadopsi perkembangan teknologi ini jika tidak mau tergerus dalam persaingan.

    Untuk itulah, lembaga pendidikan tinggi bersama pelaku industri logistik perlu memikirkan ulang penyiapan sumber daya manusia logistik seperti apa yang  harus disiapkan untuk memenuhi kebutuhan industri logistik masa depan yang padat teknologi. Misalnya, lanjut Gilarsi, lembaga pendidikan harus bisa menghasilkan lulusan yang terliterasi dengan baik mengenai teknologi yang akan datang. Lulusan yang mengerti teknologi, mampu memanfaatkan teknologi, dan dapat melakukan problem solving.

    Workshop ini diharapkan dapat memberi gambaran proses bisnis logistik di masa depan, implementasi teknologi di perusahaan logistik, memberi gambaran jenis pekerjaan masa depan yang dibutuhkan di perusahaan logistik, serta kompetensi dan profil SDM yang diharapkan oleh perusahaan logistik.

    “Jangan sampai lembaga pendidikan menghasilkan lulusan yang ketika lulus nanti ternyata pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya sudah tidak ada,” ucap Gilarsi. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kampanye Imunisasi MR Fase 2 Luar Jawa Masih di Bawah Target

    Pelaksanaan kampanye imunisasi MR fase 2 menargetkan hampir 32 juta anak usia 9 bulan hingga 15 tahun di 28 provinsi di luar Pulau Jawa. Hingga 10 Sep