Bom Surabaya, Perusahaan Perjalanan Wisata di NTT Ketar-ketir

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  •  Kapal wisatawan menepi di bibir pantai Pulau Kelor, Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur. Tempo/Francisca Christy Rosana

    Kapal wisatawan menepi di bibir pantai Pulau Kelor, Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur. Tempo/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Kupang - Kalangan pengusaha perjalanan wisata khawatir rentetan teror bom Surabaya, Jawa Timur, bakal berdampak pada sektor pariwisata, tak hanya di Kota Pahlawan itu, tapi juga ke sejumlah obyek wisata di daerah lainnya. Pasalnya, negara-negara asal para wisatawan mancanegara belakangan mengeluarkan imbauan bepergian (travel advisory) ke Indonesia. 

    "Kami khawatir peristiwa terorisme baru-baru ini kemudian membuat negara-negara penyuplai wisatawan mengeluarkan travel warning atau peringatan berwisata ke Indonesia, termasuk ke Nusa Tenggara Timur," kata Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Nusa Tenggara Timur Abed Frans di Kupang, Selasa, 15 Mei 2018.

    Baca: Teror Bom Surabaya, Aktivitas Perbankan BTN Tetap Berjalan Normal

    Abed menjelaskan, Nusa Tenggara Timur, yang selama ini dikenal sebagai daerah wisata unggulan nasional dengan destinasi wisata Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo, Pulau Flores, tak dapat dimungkiri bakal terimbas oleh travel advisory tersebut. Sejumlah negara sudah mengeluarkan imbauan bagi warganya yang bepergian ke lokasi yang dianggap rawan menyusul sejumlah peristiwa terorisme di Indonesia, seperti Inggris, Amerika, dan Australia.

    Abed berharap pemerintah segera mengatasi kondisi ancaman terorisme secara tuntas demi keamanan dan kenyamanan seluruh masyarakat Indonesia serta wisatawan asing yang datang.
    Pemerintah, melalui aparat keamanan Tentara Nasional Indonesia-Kepolisian RI, di satu sisi, harus terus meningkatkan kewaspadaan, terutama pada pintu-pintu setiap daerah wisata, seperti bandar udara dan pelabuhan. "Sementara pengamanan di destinasi wisata sendiri bisa dilakukan yang wajar-wajar saja," katanya.

    Ancaman terorisme juga diharapkan bisa segera diantisipasi mengingat untuk memulihkan kembali pariwisata pasca-terorisme membutuhkan waktu yang panjang. "Contohnya bom Bali waktu itu," kata Abed.

    Terlebih, menurut Abed, waktu kejadian rentetan bom Surabaya mendekati kegiatan annual meeting IMF-World Bank di Bali pada Oktober 2018, yang dihadiri delegasi dari ratusan negara. Para delegasi dari negara-negara peserta kegiatan diharapkan tetap berminat melakukan perjalanan wisata setelah kegiatan di Bali tersebut. Salah satu paket wisata yang dijual ke para delegasi ini adalah Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo, Pulau Flores.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Operasi Ketupat 2021 Demi Menegakkan Larangan Mudik, Berlaku 6 Mei 2021

    Sekitar 166 ribu polisi diterjunkan dalam Operasi Ketupat 2021 untuk menegakkan larangan mudik. Mereka tersebar di lebih dari 300 titik.