BI: Volatilitas Rupiah Masih Rendah di Level 5,7 Persen

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mata uang rupiah. REUTERS/Beawiharta

    Ilustrasi mata uang rupiah. REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsah menyebut jumlah harga aset berfluktuasi selama periode waktu tertentu atau tingkat volatilitas rupiah masih rendah, di level 5,7 persen secara tahunan dalam periode 1 Januari hingga 4 Mei 2018.

    "Volatilitas kita jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain yang mencapai 10, bahkan sampai 20 persen. BI akan terus menjaga volatilitas di kisaran 5 persen," ujar Nanang di kantornya pada Jumat, 4 Mei 2018.

    Baca juga: Penyebab Utama Pelemahan Rupiah dari Luar, Darmin: BI Harus Maju

    Selain itu, ujarnya, likuiditas di pasar valuta asing juga memadai. Hal tersebut terlihat dari selisih harga beli valas dan jual yang sempit. Catatan BI, volume transaksi di pasar valas hingga 4 Mei 2018, mencapai US$ 7 miliar per hari atau lebih likuid dibandingkan rata-rata harian di 2013 yang sebesar US$ 3 miliar.

    Untuk itu, lagi-lagi BI mengimbau masyarakat tidak khawatir berlebihan dengan nilai tukar rupiah yang dalam sebulan belakangan ini mendekati bahkan sempat menyentuh level Rp 14 ribu per dolar Amerika Serikat, karena menguatnya mata uang negeri Abang Sam itu.

    "Jangan dilihat dari level-nya saja, tapi bandingkan persentase perubahannya. Depresiasi rupiah jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara lain," ujarnya.

    Perdagangan nilai tukar rupiah hari ini, Jumat, 4 Mei 2018, ditutup sedikit menguat di level Rp13.943 per dolar AS atau menguat 22 poin dari kemarin,  sebesar Rp13.965 per dolar AS. BI  memastikan, Pelemahan rupiah tidak akan berdampak signifikan terhadap pasar. "BI akan terus memantau dan masuk ke pasar dengan smoothing, sesuai suplai dan permintaan," ujar Nanang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.