Indef: Pelemahan Rupiah Sangat Mengganggu Stabilitas Ekonomi

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelemahan Rupiah Diprediksi Sampai Akhir Tahun

    Pelemahan Rupiah Diprediksi Sampai Akhir Tahun

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudistira Adhinegara, menilai kondisi pelemahan rupiah saat ini sangat berisiko mengganggu stabilitas ekonomi. Bahkan diprediksi akan berpengaruh terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya nonsubsidi.

    "Apalagi impor minyak Indonesia setiap tahunnya mencapai 24,3 miliar dolar," ujar Bhima saat dihubungi Tempo pada Jumat, 27 April 2018.

    Selain itu, kata dia, jika rupiah terus melemah hingga menyentuh level Rp 14 ribu, akan berdampak pada kenaikan harga bahan baku impor yang akan menaikkan biaya produksi. "Ongkos logistik untuk ekspor-impor juga terkena dampak pelemahan kurs karena sebagian besar menggunakan kapal asing," katanya.

    Simak: IHSG Anjlok Terimbas Pelemahan Rupiah

    Bhima mengatakan, mendekati Lebaran, bahan makanan, baik garam, gula, beras, daging, maupun bawang putih, masih bergantung impor. "Fluktuasi volatile food dan administered price yang bersamaan bisa memukul daya beli masyarakat."

    Untuk itu, menurut Bhima, Bank Indonesia perlu menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Repo Rate karena tekanan eksternal terus melemahkan rupiah kendati dinilai sedikit lebih lambat daripada negara tetangga.

    Bhima menuturkan menaikkan suku bunga acuan memang pilihan dilematis karena di satu sisi bunga bank rendah tetap diperlukan pelaku usaha dalam negeri. Namun, di sisi lain, rupiah melemah efeknya juga besar. "Jika BI 7-Day Repo Rate naik 25-50 bps, nilai aset, baik surat utang maupun saham, akan lebih menarik di mata investor," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.