IHSG Anjlok, BEI Jelaskan Dampak Ketidakpastian Global

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pergerakan saham di layar Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 9 Maret 2018. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir ke zona merah pada akhir sesi pertama perdagangan Jumat ini. RTI mencatat, indeks acuan saham domestik turun 30,17 poin atau setara 0,47% ke level 6.412,86.TEMPO/Tony Hartawan

    Suasana pergerakan saham di layar Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 9 Maret 2018. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir ke zona merah pada akhir sesi pertama perdagangan Jumat ini. RTI mencatat, indeks acuan saham domestik turun 30,17 poin atau setara 0,47% ke level 6.412,86.TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama Bursa Efek Indonesia atau BEI Tito Sulistio menilai anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG) disebabkan oleh ketidakpastian global. Pernyataan itu menanggapi IHSG yang ditutup menyentuh angka 5.909,19, yakni turun 2,8 persen atau 170,65 poin pada Kamis, 26 April 2018. Merosotnya IHSG itu terjadi sejak beberapa hari terakhir.

    “Karena pasar global ada uncertainty (ketidakpastian) akibat Trump Effect,” ucap Tito dalam konferensi persnya di gedung BEI, Jakarta Pusat, pada Kamis, 26 April 2018.

    Simak: IHSG Anjlok Hari Ini, Berikut Sejumlah Penyebabnya

    Tito kemudian mengatakan hal serupa pernah terjadi saat Donald Trump memenangi pemilu sebagai Presiden Amerika Serikat. Selama 16-23 Desember 2016, indeks turun hingga 3,9 persen akibat kemenangan Trump. Meski begitu, penurunan tersebut tak berlangsung lama karena IHSG kembali mengalami rebound sebesar 5,35 persen pada 23-30 Desember 2016.

    Atas kejadian tersebut, Tito optimistis kondisi anjloknya IHSG ini tak akan berlangsung lama. Menurut dia, IHSG akan mengalami rebound kembali.

    Tito juga menyatakan faktor penyebab anjloknya IHSG adalah kenaikan suku bunga Federal Reserve atau The Fed. Meski begitu, kenaikan suku bunga tersebut tidak hanya mempengaruhi Indonesia, tapi juga negara lain.

    “Kenaikan suku bunga memang musuh terbesar pasar modal, tapi ini bukan untuk Indonesia saja, negara lain juga,” ucap Tito.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    30 Kursi Pejabat BUMN dan Pemerintah Diisi Perwira Polisi

    Sebagian dar 30 perwira polisi menduduki jabatan penting di lembaga pemerintah. Sebagian lainnya duduk di kursi badan usaha milik negara alias BUMN.