Kamis, 20 September 2018

Menteri Darmin: Fundamental Kurs Rupiah 13.500 per Dolar AS

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Majalah The Economist menyebutkan, masalah yang dihadapi Indonesia adalah pemerintahan yang birokratis, korupsi, dan infrastruktur yang tidak memadai menjadi alasan nilai tukar rupiah sangat rendah. Adek Berry/AFP/Getty Images

    Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Majalah The Economist menyebutkan, masalah yang dihadapi Indonesia adalah pemerintahan yang birokratis, korupsi, dan infrastruktur yang tidak memadai menjadi alasan nilai tukar rupiah sangat rendah. Adek Berry/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidan Perekonomian Darmin Nasution menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam sepekan terakhir hingga hampir menembus Rp 14.000 per dolar AS, tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia. "Sebenarnya fundamental itu ada di angka Rp 13.500 - Rp 13.600 per dolar AS," ujarnya usai menghadiri Musyawarah Nasional Apindo X di Jakarta, Rabu, 25 April 2018.

    Meski begitu, menurut Darmin, level fundamental kurs tersebut bisa saja sedikit bergeser. "Kalau situasi dipicu dengan omongan macam-macam, bisa saja ia bergerak sedikit ke sana sedikit ke sini. Tapi sebetulnya tidak ada sesuatu yang membuat ia berubah secara signifikan," katanya.

    Baca: Rupiah Menguat 84 Poin Berkat Intervensi Bank Indonesia

    Sebelumnya, pada pekan lalu, Presiden Amerika Donald Trump berkicau di Twitter yang isinya menuduh Cina dan Rusia sebagai manipulator kurs karena melakukan devaluasi mata uangnya. Devaluasi mata uang biasanya dilakukan agar ekspor suatu negara menjadi lebih murah dan lebih bersaing di pasar global. "Rusia dan Cina melakukan permainan devaluasi mata uang ketika Amerika terus menaikkan suku bunga. Tidak bisa diterima!" kicau Trump saat itu.

    Kicauan Trump tersebut diunggah beberapa hari setelah Departemen Keuangan Amerika menolak untuk menyebut kedua negara tersebut sebagai manipulator mata uang dalam laporan terbarunya. "Sekarang kondisinya sudah lebih tenang sebetulnya. Memang minggu lalu Presiden AS pake Twitter mulai menuduh lagi beberapa negara sebagai manipulator kurs sehingga pasar juga mulai bergerak," kata Darmin.

    Seperti diketahui, kurs dolar AS menguat pada akhir perdagangan pekan lalu di tengah meningkatnya imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS. Indeks dolar AS, yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, naik 0,37 persen menjadi 90,277 pada akhir perdagangan.

    Imbal hasil pada obligasi pemerintah 10 tahun bergerak di atas 2,957 persen pada Jumat pekan lalu, mencapai level tertingginya sejak Januari 2014. Imbal hasil pada surat utang negara AS dua tahun mencapai 2,457 persen, level tertinggi sejak 8 September 2008 ketika surat utang negara dua tahun memberikan imbal hasil setinggi 2,542 persen.

    Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu mencapai Rp 13.888 per dolar AS. Angka tersebut sedikit menguat dibandingkan hari sebelumnya Rp 13.900 per dolar AS.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salah Tangkap, Penangkapan Terduga Teroris, dan Pelanggaran HAM

    Sejak insiden Mako Brimob Kelapa Dua pada Mei 2018, Polri tak mempublikasi penangkapan terduga teroris yang berpotensi terjadi Pelanggaran HAM.