Rupiah Jeblok, Bagaimana Nasib Utang Luar Negeri?

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Utang Luar Negeri Terus Meningkat

    Utang Luar Negeri Terus Meningkat

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah kembali menimbulkan kekhawatiran sejumlah pihak. Salah satunya kecemasan terhadap dampaknya pada nilai utang luar negeri. 

    Setelah pada Senin lalu sempat melampaui level 13.900 per dolar Amerika Serikat, hari ini rupiah sempat menguat tipis ke posisi 13.888 per dolar AS. Sejumlah pengamat memperkirakan pelemahan rupiah bakal berlanjut hingga melewati 14.000 per dolar AS, yang terakhir kali terjadi pada Desember 2015. 

    Baca: Rupiah Melemah, Airlangga Hartarto: Utang Pengusaha Bertambah

    Bahkan ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, menyatakan peluangnya mencapai 90 persen. Menurut dia, level terendah itu akan terjadi pada Mei nanti. Makin jebloknya rupiah ini dipicu oleh kenaikan permintaan terhadap dolar AS seiring dengan tekanan moneter global, keperluan pemenuhan impor bahan baku, pembayaran dividen, dan utang luar negeri korporasi. “Pembiayaan utang luar negeri terancam lebih besar tahun ini,” kata Bhima kepada Tempo, Selasa, 24 April 2018. 

    Ekonom PT Bank Central Asia Tbk, David Sumual, menilai rupiah saat ini telah berada di bawah nilai fundamentalnya. “Level sekarang sudah agak lemah, karena prediksi tahun ini ada di kisaran 13.600,” ujarnya. “Akibatnya menimbulkan gejolak di pasar modal dan pasar uang.”

    Kemarin, sentimen melemahnya rupiah dianggap menjadi salah satu faktor terpuruknya perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. Indeks harga saham gabungan kembali ditutup dengan rapor merah, turun 78,513 poin ke level 6.229,635. Begitu pula indeks LQ45 yang melemah 16,583 poin ke 1.010,876.

    Kekhawatiran tentang meningkatnya risiko utang luar negeri diamini Kepala Subdirektorat Perencanaan dan Strategi Pembiayaan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Erwin Ginting. Per akhir Maret lalu, utang pemerintah dalam valuta asing mencapai US$ 109,6 miliar dari Rp 4.136 triliun total utang pemerintah dalam rupiah. “Itu penghitungan ketika nilai tukar rupiah sekitar Rp 13.750 per dolar AS,” tutur Erwin.

    Menurut Erwin, setiap terjadi depresiasi Rp 100 per dolar AS, stok utang yang sama akan meningkat Rp 10,96 triliun. Artinya, saat ini total utang (outstanding) telah membengkak menjadi sekitar Rp 4.146,96 triliun. 

    Tak hanya pemerintah, kalangan pengusaha juga ketar-ketir menghadapi pelemahan rupiah itu. “Kami menyikapinya dengan waspada. Banyak bahan baku industri yang masih bergantung pada impor,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Bidang Hubungan Internasional dan Investasi Shinta Kamdani.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.