Menteri Darmin Sebut Orientasi Ekspor Kian Penting, Ini Sebabnya

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 20 Oktober 2017. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Indonesia pada September 2017 turun dibanding bulan sebelumnya. Tempo/Tony Hartawan

    Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 20 Oktober 2017. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Indonesia pada September 2017 turun dibanding bulan sebelumnya. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan Indonesia harus menjadi negara yang berorientasi ekspor untuk mengantisipasi perekonomian dan perdagangan dunia yang tengah membaik. Orientasi ekspor sangat diperlukan agar Indonesia tidak semakin tertinggal dibanding negara yang sudah memanfaatkan perbaikan ekonomi dan perdagangan dunia.

    "Indonesia belum berorientasi ekspor. Tidak usah dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand yang sudah jauh lebih berorientasi ekspor dibanding kita. Dibanding Vietnam, kita kalah," ujar Darmin di Hotel Four Season, Jakarta, Selasa, 24 April 2018.

    Baca: Ekspor Ikan ke Eropa Gagal, Susi Pudjiastuti Sebut Ini Sebabnya

    Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan langsung turun lantaran belum berorientasi ekspor, menurut Darmin, dalam jangka panjang, perekonomian nasional bakal tertinggal. "Memang tidak akan turun dan malah bisa naik sedikit. Tapi ekonomi negara-negara yang berorientasi ekspor akan lebih baik dan cepat dibandingkan kita," ucapnya.

    Saat ini, kata Darmin, ekspor Indonesia pun masih didominasi oleh produk primer dan sumber daya alam, seperti hasil pertambangan dan pertanian. Ekspor dalam bidang industri masih sangat sedikit.

    Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor pada Maret 2018 mencapai US$ 15,58 miliar, naik 10,24 persen dibanding bulan sebelumnya yang senilai US$ 14,13 miliar. Beberapa sektor tercatat mengalami kenaikan kinerja ekspor, seperti sektor pertanian naik 20,01 persen, industri pengolahan naik 9,17 persen, serta pertambangan dan lainnya naik 22,66 persen.

    Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Maret 2018 terhadap Februari 2018 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$ 358,9 juta, diikuti besi dan baja US$ 209,7 juta, serta bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$ 133,3 juta.

    Darmin, pada akhir pekan lalu, mengatakan, meski ekspor komoditas, seperti mineral dan batu bara, minyak, dan gas, juga CPO, menyumbang surplus pada neraca perdagangan, dampaknya tidak bertahan lama dalam situasi saat ini. Sekarang pemerintah mulai membenahi struktur ekspor dengan mengundang penanaman modal di sektor manufaktur dan industri lain.

    Penanaman modal tersebut agar investasi bisa menghasilkan nilai tambah yang bermanfaat untuk penguatan ekspor. "Komoditas memang penting dalam ekspor, tapi kita ingin ke depan non-komoditas, lebih ke industri," kata Darmin, Jumat, 20 April 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.