Ini Alasan Tower Bandara Kertajati Setinggi Tower Soekarno-Hatta

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto aerial proyek pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, 2 April 2018.  Jelang operasional BIJB pada Mei 2018, proyek pembangunan fisik Bandara BIJB yang saat ini telah mencapai 91,2 persen. Tempo/Tony Hartawan

    Foto aerial proyek pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, 2 April 2018. Jelang operasional BIJB pada Mei 2018, proyek pembangunan fisik Bandara BIJB yang saat ini telah mencapai 91,2 persen. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Bandung -Direktur Keuangan Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Airnav Indonesia), Triyana mengatakan, lembaganya membangun tower untuk bandara Kertajati di Majalengka setinggi 60 meter. “Towernya 60 meter, Kertajati itu sama dengan Soetta (bandara Soekarno-Hatta) tingginya,” kata dia selepas bertemu dengan Sekretaris Daerah Jawa Barat Iwa Karniwa di Gedung Sate, Bandung, Kamis, 19 April 2018.

    Triyana mengatakan, sengaja Airnav membangun setinggi itu, untuk mengantisipasi pengembangan bandara tersebut. “Kita kasih tower 60 meter itu, karena kita mengantisipasi perkembangan ke depan. Pak Sekda bilang, (target panjang landas pacu) sampai 4 ribu meter, itu sudah gak perlu meninggikan tower,” kata dia.

    Baca: Bandara Kertajati Embarkasi Haji 2018, Ombudsman: Risikonya Besar

    Menurut Triyana, dengan panjang landaspacu saat ini,bandara Kertajati tidak membutuhkan tower setinggi itu. “Kalau kondisi sekarang, hanya 2.500 meter sampai 3 ribu meter, dengan visibility terbuka seperti itu, kita butuh tower paling 30 meteran. Tapi karena kita antisipasi ke depan, setelah kita koordinasi dengan pemda, kita bikin 60 meter. Itu sudah visi ke depan,” kata dia.

    Triyana berharap PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB) bisa secepatnya merealisasikan konsep aerotropolis penyokong badara itu. “Insya Allah ini kita bisa maju, dengan catatan industri aetropolisnya juga maju. Kalau aerotropolisnya maju, ini akan bagus, kita dukung Jabar,” kata dia.

    Triyana mengatakan, seluruh sistem pemandu pesawat yang dipasagn Airnav di bandara Kertajati sudah siap. Sistem navigasi bandara Kertajati juga sudah terhubunga dengan bandara-bandara lainnya. “Sistem sudah in-place sekarang,” kata dia.

    Triyana mengatakan, instrumen pemandu pesawat itu sudah teruji dengan suksesnya pesawat jet yang belum lama sudah dicoba mendarat di bandara Kertajati, yang dinaiki langsung oleh Menteri Perhubungan. “Jet sudah landing di sana, berarti alat sudah siap,” kata dia.

    Sekretaris Daerah Jawa Barat Iwa Karniwa mengatakan, pertemuannya itu untuk menuntaskan proses hibah tanah pada Airnav untuk membangun tower dan sistem pendukung sisi udara bandara Kertajati di Majalengka. “Kita sudah selesaikan mengenai hibah tanah di bandara itu untuk dibangun tower, untuk memantau dan mengatur lalu lintas pesawat di udara yang keluar masuk bandara, berikut sarana pendukungnya. Kita sudah serahkan,” kata dia, Kamis, 19 April 2018.

    Iwa mengatakan, dalam rapat itu, pemerintah Jawa Barat juga mengutarakan niatannya memberi hibah serupa untuk lahan di kawasan bandara Nusawiru milik pemerintah provinsi Jawa Barat di Pangandaran pada Airnav Indonesia. “Tentang mengenai pengembangan bandara Nusawiru, ini juga kita sedang siapkan hibah ke Airnav untuk dibangunkan pembangunan tower maupun juga kelengkapan lainnya untuk pengaturan pesawat. Ini dalam proses. Insya Alah dalam bulan ini akan kita kerjasama,” kata dia.

    Baca berita tentang Bandara Kertajati lainnya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.