Bukalapak Latih Santri Jadi Pengusaha Online

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Co-Founder dan CFO Bukalapak M. Fajrin Rasyid dan Vice President of Marketing JNE Eri Palgunadi dalam Peluncuran Layanan JTR JNE di Bukalapak di Kantor Pusat JNE, Jakarta Barat, 22 Februari 2018. TEMPO/Andita Rahma

    Co-Founder dan CFO Bukalapak M. Fajrin Rasyid dan Vice President of Marketing JNE Eri Palgunadi dalam Peluncuran Layanan JTR JNE di Bukalapak di Kantor Pusat JNE, Jakarta Barat, 22 Februari 2018. TEMPO/Andita Rahma

    Tasikmalaya - Perusahaan perdagangan dalam jaringan (e-commerce) Bukalapak mengarahkan santri yang baru selesai menempuh pendidikan untuk menjadi pengusaha online. Perusahaan ini mengadakan pelatihan bertema Santripreneur Digital Entrepreneurship Kelas Bangkit 2018 kepada 250 santri Pondok Pesantren Persatuan Islam (Persis) 67 Benda, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis 19 April 2018.

    “Ini (santri) yang udah lulus, mereka mungkin masih bingung mau kerja apa, kita arahkan untuk jadi pengusaha online,” jelas Strategic Advisor Bukalapak, Muhammad Isa usai pelatihan.

    Baca: Bos Bukalapak Pernah Bangkrut Jualan Mi, Kini Nilainya Rp 13 T

    Menurut dia, dengan menjadi pengusaha online marketnya mudah, dan caranya gampang. Dia berharap, ketika santri diarahkan menggeluti usaha penjualan secara online akan mencapai kesejahteraan yang tidak begitu lama.

    “Sebenarnya kita menawarkan mereka dua hal, bukan tidak mungkin kedua hal itu bisa dijalani. Pertama arahkan jadi agen Bukalapak atau makelar untuk produk Bukalapak yang ada, atau jadi seler atau penjual di Bukalapak,” jelas Isa.

    Santripreneur ini, dijelaskan Isa, merupakan gerakan pemberdayaan ekonomi rakyat atau umat yang potensinya sangat besar. Oleh karenanya Bukalapak membuat roadshow untuk memberi pencerahan dan juga pelatihan-pelatihan konkret untuk santri pondok pesantren di Indonesia, mahasiswa perguruan tinggi untuk bisa memulai usaha dengan cara mudah dengan market yang lebih luas.

    “Harapannya masyarakat Muslim yang jumlahnya banyak ini bisa jadi pengusaha lebih cepat dan mudah. Jadi pilihannya enggak jadi PNS atau karyawan, tapi ada pilihan baru jadi pengusaha digital dengan cara lebih mudah,” terang Isa.

    Disinggung ihwal kenapa menyasar santri untuk jadi pengusaha online, Isa mengatakan, market muslim di Indonesia besar sekali. Alasan lain, Rosulullah SAW dan sahabat-sahabatnya banyak yang jadi pengusaha. “Misalnya umat muslim bisa berprofesi seperti yang Nabi lakukan, dan sahabat Nabi lakukan, kurang lebih ini akan jadi baik bagi kita semua,” ucapnya.

    Saat ini, menurut Isa, semua orang sudah go digital. Tukang sayur saja sekarang sudah bisa memakai smartphone. “Ini artinya marketnya berkembang. Sayang market besar ini enggak dimanfaatin,” sebut dia.

    Hendri Permana, pengusaha online Tasikmalaya mengatakan, usahanya pembuatan busur panahnya bertambah pesat setelah menggeluti usaha online. Saat usahanya offline dan hanya beroperasi di Tasikmalaya, produknya sulit menembus ke luar pulau.

    “Dengan jualan online bisa sampai ke luar pulau, sekarang sampai ke Aceh, Riau, pasar lebih luas. Bukalapak membantu UKM, yang tadinya sedikit wilayah penjualannya sekarang jadi luas,” jelas Hendri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.