Pasok Bahan Pengganti Sutera, Jepang Buat Syarat Ketat

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Contoh karya batik berbahan baku serat cupro. Sejumlah artisan Yogya akan tampilkan karya berbahan serat Cupro pengganti sutera dalam Inacraft 2018 yang digelar 25-29 April 2018 di Jakarta Convention Center. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Contoh karya batik berbahan baku serat cupro. Sejumlah artisan Yogya akan tampilkan karya berbahan serat Cupro pengganti sutera dalam Inacraft 2018 yang digelar 25-29 April 2018 di Jakarta Convention Center. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, YOGYAKARTA - Lembaga pembinaan perajin dan pemerhati kain sutera, Yayasan Royal Silk Indonesia, menuturkan bahan baku serat cupro yang bisa menjadi alternatif pengganti benang sutera salah satunya diimpor dari negara Jepang.

    “Dari Jepang ini diimpor seratnya, lalu pemintalan menjadi benang dilakukan pabrik-pabrik di Indonesia,” ujar Ketua Yayasan Royal Silk Indonesia Fitriani Kuroda, di Yogyakarta Senin 16 April 2018.

    Serat Cupro hadir menjadi alternative pengganti benang sutera bagi perajin yang harganya kini melambung dan tak terjangkau di kisaran Rp 1,3 juta per kilogram. Tingginya harga benang sutera saat ini karena Indonesia total mengimpor dari Cina, tidak ada yang diproduksi sendiri.

    Fitriani menuturkan, salah satu perusahaan benang yang mengekspor serat cupro ke Indonesia untuk diproduksi menjadi benang itu misalnya Asahi Kasei Corporation.

    Perusahaan yang berbasis di Osaka itu kini terlibat kerjasama dengan para artisan Indonesia untuk mengolah benang cupro bernama Bemberg mereka dalam karya batik dan tenun. Karya artisan itu akan dipamerkan dalam pameran kerajinan tangan Inacraft 2018 yang dilangsungkan 25-29 April 2018 mendatang di Jakarta Convention Center (JCC).

    Simak: Kebutuhan Sutera Indonesia 98 persen Berasal dari Cina

    “Dalam kerjasama dan kolaborasi ini ada 1 juta ton bahan baku serta cupro diimpor untuk dipintal di Indonesia lalu digunakan para artisan,” ujarnya.

    Dalam kerjasama itu, ujar Fitriani, pihak Asahi mensyaratkan serat cupro hanya digunakan pada kain batik dan tenun tradisional. Tidak boleh digunakan untuk kain printing.

    “Asahi selama ini membatasi ekspor cupro ke Indonesia agar produknya tak sampai dimanfaatkan perusahaan-perusahaan besar di sini untuk diterapkan pada kain printing,” ujarnya.

    Sebab, selama ini serat cupro dari Asahi yang telah dipintal jadi benang bemberg juga telah digunakan selama 50 tahun di India untuk membuat pakaian tradisional Sari untuk wanita dan turban untuk laki-lakinya.

    “Sedangkan di Indonesia hanya boleh digunakan untuk batik tulis, cap dan tenun atau motif tradisi, tidak boleh untuk massal berton-ton seperti itu,” ujarnya.

    Cupro sendiri memiliki berbagai keunggulan sehingga bisa disejajarkan kualitas sutera. Warna benang menjadi berkilau dan mengesankan produk menjadi terangkat, memiliki kesan glamor.  Namun lebih dari itu, sebagai benang untuk dunia seni dan kerajinan harganya lebih terjangkau bagi kalangan perajin.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Angin Prayitno Aji dan Tiga Perusahaan yang Diperiksa KPK dalam Kasus Suap Pajak

    Angin Prayitno Aji dan Dadan Ramdani ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus suap pajak. Dari 165 perusahaan, 3 sedang diperiksa atas dugaan kasus itu.