Menjelang Puasa, Pedagang Tanah Abang Mengeluh Omzet Anjlok

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo bersama Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (International Monetery Fund/ IMF) Christine Lagarde saat blusukan ke Pasar Tanah Abang, Jakarta, 26 Februari 2018. Jokowi dan Lagarde menyenpatkan diri berinteraksi dengan para penjual di Blok A Tanah Abang. TEMPO/Subekti.

    Presiden Joko Widodo bersama Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (International Monetery Fund/ IMF) Christine Lagarde saat blusukan ke Pasar Tanah Abang, Jakarta, 26 Februari 2018. Jokowi dan Lagarde menyenpatkan diri berinteraksi dengan para penjual di Blok A Tanah Abang. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Masyarakat mulai mengunjungi Pasar Tanah Abang menjelang bulan puasa. Berdasarkan pantauan Tempo, Sabtu, 14 April 2018, sejumlah orang berlalu lalang dari tenda pedagang kaki lima (PKL) sampai sepanjang jalan menuju Blok A Pasar Tanah Abang.

    Tempo menyusuri jalan dari tenda PKL yang berada persis di pintu keluar Stasiun Tanah Abang ke Blok A Pasar Tanah Abang. Suasana di dalam Blok A tak seramai di tenda PKL.

    Banyak toko di Blok A sudah tutup sekitar pukul 16.30. Namun beberapa toko yang memajang baju muslim masih buka. Pemilik toko San Collection, Septo Alda Nazar, sedang duduk manis menjelang menutup toko.

    Septo mengakui masyarakat banyak mencari baju muslim menjelang bulan puasa pada Mei mendatang, apalagi pada hari libur, Sabtu, dan Minggu. Namun penjualan baju kokonya tahun ini menunjukkan tren penurunan.

    "Daya beli masyarakat tahun ini menurun 30 persen dibanding tahun lalu," kata Septo saat disambangi Tempo, Sabtu, 14 April 2018.

    Menurut Septo, jumlah masyarakat yang melewati Blok A tergolong banyak. Namun kedatangan masyarakat, yang dulu hendak berbelanja, kini hanya jalan-jalan.

    Pendapat serupa disampaikan Ven selaku pemilik toko Viona Fashion. Viona Fashion menjual gamis khusus perempuan. Ven mengutarakan penjualan bajunya tahun ini merosot hingga 50 persen.

    "Tahun lalu di bulan Maret ramai pembeli," ujarnya. "Biasanya bulan ini seharusnya puncak."

    Ven tak tahu penyebab pasti penurunan omzet Viona Fashion. Dia memperkirakan pembukaan tenda PKL adalah salah satu penyebabnya. PKL makin banyak membuka lapak. Untuk masuk ke Blok A pun harus berjalan kaki dengan jarak yang tak dekat.

    Untungnya, kata Ven, beberapa orang menilai gamis Viona Fashion modis. Karena itu, pelanggan Viona Fahsion masih setia membeli gamis di toko itu. "Tapi mau tidak mau Lebaran buka karena sekarang barang menumpuk," ucap Ven.

    Penjual baju muslim lain juga mengalami penurunan omzet pada tahun ini. "Tulis saja ada penurunan," tuturnya.

    Pengurangan omzet tak dialami toko baju muslim serta perlengkapan haji dan umrah, Ar-Rahmaan. Penjaga toko Ar-Rahmaan, Fitri, mengatakan ada peningkatan omzet mencapai 70 persen dibanding penghasilan pada hari biasa.

    Maklum, pada bulan menjelang puasa ini banyak yang mencari baju koko. Fitri berujar ada peningkatan penghasilan dari tahun ke tahun. "Sehari, kalau hari biasa, kita setor Rp 5 juta, sekarang bisa Rp 30 juta sampai Rp 50 juta," kata Fitri.

    Ar-Rahmaan pun hanya menjual baju koko dan sarung bulan ini. Adapun pada hari biasa, Ar-Rahmaan tak hanya menyediakan dua produk itu, tapi juga perlengkapan umrah dan haji, seperti sajadah.

    Pembelinya ada yang langsung memborong dalam jumlah besar untuk dijual kembali ataupun eceran. Untuk baju koko, misalnya, pernah ada pembeli yang membawa pulang enam karung. Satu karung berisi sekitar 200 baju koko. Untuk sarung, paling banyak 100 buah per orang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.