Pameran Adiwastra Nusantara, Kain Batik Mulai Rp 50 Ribu Sampai Rp 5 Juta

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kain batik. Shutterstock

    Ilustrasi kain batik. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta-Pameran kain Adiwastra Nusantara kembali digelar pada 11 - 15 April 2018 di Jakarta Convention Center, Jakarta Selatan. Dalam pameran ini, para perajin kain Usaha Mikro Kecil dan Menengah dari berbagai daerah. Berbagai kain nusantara, mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah dijajakan dalam pameran bertajuk ‘Nuansa Kekinian dalam Balutan Wastra Adati Nusantara’ tersebut.

    Kain batik dengan harga paling murah ditawarkan oleh stand Batik Nayla. Batik Nayla menjajakan kain batik cetak khas Pekalongan mulai Rp 50 ribu hingga Rp 300 ribu-an.

    Baca: Dalam Sepekan, Pameran Properti Ini Didatangi 200 Ribu Pengunjung

    Sementara, kain termahal ditawarkan oleh stand Galeri Batik Jawa. Merek kain nusantara yang mengusung pewarna alami itu menjual satu set kain dan selendang batik berbahan sutra Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) seharga Rp 5,5 juta. “Coraknya nitik dan diwarnai dengan pewarna alami dari pasta daun indigo vera,” kata Ajeng, salah satu karyawan Galeri Batik Jawa.

    Galeri Batik Jawa juga menawarkan kain dengan harga cukup terjangkau, yakni kain batik primisima berbahan katun rayon. Kain tersebut dipatok Rp 150 ribu.

    Menurut Ajeng, sejak hari pertama pameran, Galeri Batik Jawa telah meraup transaksi senilai Rp 200 juta-an. “Targetnya di hari terakhir sampai Rp 300 juta,” kata Ajeng.

    Pameran Adiwastra Nusantara diikuti oleh 400 lebih gerai perajin UMKM. Hingga hari keempat, pameran Adiwastra Nusantara 2018 telah menarik 5.000 pengunjung.

    yang digelar tahun ini merupakan pameran ke-11. Tahun depan, pameran akbar kain nusantara ini akan kembali digelar di sekitar bulan Maret atau April.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.