Urai Kepadatan, Kereta Bandara Hanya Berhenti di Stasiun Batu Ceper dan Duri

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kereta Api Bandara

    Kereta Api Bandara

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan, pengguna kereta rel listrik (KRL) commuter line dapat menggunakan alternatif kendaraan transportasi berbasis rel lain guna mengurai kepadatan penumpang di Stasiun Duri. Caranya dengan naik Kereta Bandara.

    Menurut Budi, penumpang KRL bisa memesan tiket kereta bandara. Kereta bandara yang berangkat dari Stasiun Duri akan langsung menuju Stasiun Batu Ceper, begitu juga sebaliknya. Artinya, tidak ada pemberhentian di stasiun lain yang dilewati kereta selama perjalanan Duri-Batu Ceper atau Batu Ceper-Duri.

    "Penumpang yang paling banyak turun bukan di Stasiun Batu Ceper. Tapi Stasiun Batu Ceper termasuk yang banyak," kata Budi saat meninjau Stasiun Duri, Jakarta, Sabtu, 14 April 2018.

    Baca: Perjalanan KRL Belum Normal, Menteri Budi Sidak di Stasiun Duri

    Sebelumnya, Budi menyodorkan solusi mengurangi kepadatan penumpang di Stasiun Duri. Salah satu solusinya, yakni pengguna KRL dapat menggunakan kereta bandara. Penyebab kepadatan di Stasiun Duri lantaran frekuensi kereta bandara yang berhenti di stasiun itu meningkat.

    Budi memaparkan, penggunaan kereta bandara bagi penumpang KRL hanya berlaku selama kepadatan di Stasiun Duri masih terjadi. Kuota penumpang dan waktu penggunaan kereta bandara pun terbatas.

    Menurut Budi, ada sistem penjatahan untuk membatasi volume penumpang KRL yang naik kereta bandara. Sistemnya adalah 'siapa cepat dia dapat'. Karenanya, tiket kereta bandara dipesan secara online. "Jadi masyarakat tidak bisa komplain. Siapa duluan, siapa dapat," ujar Budi.

    Kepala Stasiun Duri Widy menyampaikan, tarif tiket Kereta Bandara untuk penumpang KRL sedang dikaji. Teknis implementasinya pun masih dalam proses pembahasan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.