Jumat Ini, Kominfo Akan Luncurkan Portal Anti Hoax

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Deklarasi anti hoaks yang dilakukan belasan elemen masyarakat di alun-alun baraat kota Serang, Bnten. TEMPO/Darma Wijaya

    Deklarasi anti hoaks yang dilakukan belasan elemen masyarakat di alun-alun baraat kota Serang, Bnten. TEMPO/Darma Wijaya

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama komunitas Siberkreasi dan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) bakal meluncurkan portal ‘Stop Hoax’ untuk mencegah peredaran berita palsu. Portal tersebut bakal menjadi aggregator yang bertugas mengonfirmasi kebenaran berita online.

    “Ini kerja sama membuat portal aggregator konten-konten agar masyarakat mudah mengecek hoaks yang berseliweran di Facebook, WhatsApp, dan jejaring sosial lainnya,” kata Kepala Hubungan Masyarakat Kominfo, Noor Iza, dalam konferensi pers di Gedung Kominfo, Jakarta Pusat pada Rabu, 11 April 2018.

    Portal ‘Stop Hoaks’ akan diluncurkan pada Jumat, 13 April 2018 mendatang. Iza menjelaskan, nantinya portal ini juga akan bekerja sama dengan lembaga, komunitas, dan kementerian lainnya untuk menangkis peredaran berita palsu. Misalnya, beredar hoaks obat palsu di jejaring sosial. Nantinya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai lembaga terkait akan meluruskan disinformasi tersebut.

    “Jadi portal ini akan menayangkan semua yang dihasilkan masing-masing lembaga,” kata Iza.

    Simak: Salah Kaprah Hoax

    Iza menuturkan, portal tersebut akan menampilkan deretan tautan berita lengkap dengan deskripsi singkat yang menjelaskan kebenaran situs tersebut. Nantinya, pengguna akan diarahkan langsung ke tautan berita tersebut. 

    “Jadi masyarakat tahu informasi tersebut benar atau tidak,” kata Iza menambahkan.

    Menurut Iza, sebelumnya Kominfo juga telah meluncurkan kanal penangkis hoaks melalui situs Jaringan Pemberitaan Pemerintah. Dalam situs JPP.go.id, terdapat kanal yang menampilkan berita hoaks dan asli. Nantinya, kanal tersebut akan melebur dalam portal ‘Stop Hoax’.

    Kasus ujaran kebencian memang diperkirakan semakin marak menjelang pilkada 2018. Guru besar Ilmu Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, mengatakan ujaran kebencian menjadi senjata yang cukup ampuh untuk menjatuhkan lawan politik. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.