Iskindo Anggap Pertamina Lamban Antisipasi Kebocoran Minyak Balikpapan

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Luasan sebaran minyak Pertamina di Teluk Balikpapan berdasarkan data Satelit Sentinel 1A, 2 April 2018. (LAPAN)

    Luasan sebaran minyak Pertamina di Teluk Balikpapan berdasarkan data Satelit Sentinel 1A, 2 April 2018. (LAPAN)

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua tim investigasi khusus Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (Iskindo), Sakdullah, mengatakan PT Pertamina lamban menanggulangi kasus kebocoran pipa minyak mentah di Balikpapan. "Hal itu terlihat dari sikap Pertamina setelah hari keempat kejadian baru mengakui minyak mentah itu dari pipa miliknya yang patah," tutur Sakdullah dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 11 April 2018.

    Kebocoran minyak mentah yang diikuti dengan kebakaran itu terjadi pada Sabtu, 31 Maret 2018. Insiden tersebut mengakibatkan lima orang tewas. Pipa yang menghubungkan Terminal Crude Lawe-lawe dengan Kilang Balikpapan itu diketahui patah. Peristiwa ini menyebabkan lima orang nelayan meninggal dunia serta ratusan nelayan lainnya tidak bisa melaut.

    Baca: Tumpahan Minyak di Balikpapan, Pertamina Bantah Lalai

    Sakdullah pun menduga incident management team (IMT) Pertamina lamban merespons suatu situasi yang darurat. Ia pun mengatakan perlu dilakukan pengecekan lebih dalam apakah IMT tersebut memiliki perintah terpadu yang melibatkan berbagai unsur di wilayah Teluk Balikpapan.

    Sebelumnya, hal yang sama disampaikan Wakil Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Herman Khaeron. Herman mengatakan, menurut laporan, kebocoran pertama dideteksi pada Sabtu, 31 Maret 2018, pukul 03.00. Kemudian kebocoran disusul dengan kebakaran sekitar pukul 10.00.

    "Rentang waktu tujuh jam itu seharusnya cukup untuk mengerahkan segala potensi untuk memproteksi area kebocoran. Ini kan aneh. Pertamina seharusnya sudah tahu soal langkah tanggap ini," tuturnya.

    Direktur Pengolahan Pertamina Toharso mengatakan minimnya visibilitas akibat air di wilayah teluk yang tidak jernih menjadi penyebab lamanya pengumuman kebocoran tersebut. Menurut dia, pihaknya perlu mengecek secara saksama pipa bawah laut sepanjang 3,6 kilometer dari total 4,5 kilometer untuk menemukan titik kebocoran.

    "Sudah disampaikan juga oleh Direktur Kriminal Khusus Polda Balikpapan kalau jarak pandang teluk hanya 50 sentimeter," ucap Toharso.

    Barulah pada Selasa sore, 3 April 2018, kata dia, ditemukan titik bocor menggunakan foto dari alat pemindai sonar. Didapati bahwa pipa telah putus dan terseret sejauh sekitar 120 meter.

    Hingga saat ini, tim investigasi gabungan pemerintah serta Pertamina sedang menelusuri penyebab kebocoran tersebut. Toharso pun memastikan investigasi mengenai penyebab kebocoran minyak mentah Pertamina akan selesai dalam waktu dekat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.