Nilai Ekspor Lamongan Naik Rp 13 Miliar

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Ekspor. ANTARA/Yudhi Mahatma/ed/nz/11

    Ilustrasi Ekspor. ANTARA/Yudhi Mahatma/ed/nz/11

    TEMPO.CO, Lamongan - Nilai ekspor Kabupaten Lamongan pada 2016 sebesar Rp 123.900.000 menjadi Rp 136.933.600.000 di 2017 atau ada kenaikan Rp 13.033.600.000. Kenaikan itu terutama disebabkan adanya dua unit usaha baru di Lamongan yang memiliki produk ekspor.

    Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lamongan Mohammad Zamroni, peningkatan nilai ekspor di daerahnya terutama didukung adanya kenaikan jumlah perusahaan pelaksana ekspor sebanyak dua unit usaha, yaitu dari Asosiasi Pengusaha Arang dan Nufa Market.

    Produk usahanya berupa beras, olahan ikan, dan jagung. "Kenaikannya dari sektor itu," ujarnya kepada jurnalis, Selasa, 10 April 2018.

    Baca: Mendag Lepas Ekspor Perdana 6 Ton Nugget Ayam ke Jepang

    Menurut Zamroni, jumlah unit usaha pelaksana ekspor pada 2016 ada 60 perusahaan. Sedangkan pada 2017 bertambah menjadi 62 perusahaan. Kenaikan jumlah perusahaan tersebut tidak lepas dari peran pemerintah Lamongan yang melakukan pembinaan terkait dengan prosedur ekspor. “Kita juga rutin promosi dan misi dagang,” kata Zamroni.

    Untuk komoditas yang banyak diekspor, Zamroni melanjutkan, berasal dari berbagai tempat di Lamongan. Komoditas itu di antaranya sarung tenun ikat, berbagai kerajinan kreatif, dolomit, meubelair, pupuk alam, snack, dan olahan hasil ikan laut. Negara tujuannya pun beragam, mulai Timur Tengah, Australia, Jamaika, Cina, Jepang, Korea, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, hingga Eropa.

    Sedangkan pada 2017, komoditas baru dari Kabupaten Lamongan, yakni arang, langsung menembus pasar Mesir oleh eksportir Asosiasi Pengusaha Arang dari Kecamatan Sambeng sebanyak 24 kontainer.

    Untuk Nufa Market, selama 2017, para eksportir mengapalkan 30 ribu kilogram kerupuk olahan ikan. Kemudian 420 ribu kilogram beras super, 10 ribu kilogram olahan jagung, dan 13 ribu kilogram olahan ikan kering. Negara tujuan ekspornya meliputi Malaysia, Korea, dan Arab Saudi. “Kita upayakan tetap rutin,” ujar Zamroni.

    Sebelumnya, Wakil Ketua Dewan Jagung Nasional Sidi Asmono melihat Kabupaten Lamongan dalam dua atau tiga tahun mendatang bisa memproduksi jagung hingga 1 juta ton. Keyakinan itu didasari lonjakan produksi luar biasa yang dicapai kabupaten ini.

    Dari produksi 323.549 ton pada 2015, naik menjadi 372.162 ton pada 2016, kemudian melonjak menjadi 571.080 ton pada 2017. Dari catatan Dewan Nasional Jagung, produksi yang dicapai Lamongan pada 2017 itu adalah yang tertinggi. Dia menyebut hal itu bisa menjadi rekor baru, baik dari sisi produksi maupun produktivitas.

    “Lamongan bisa jadi barometer bagi agribisnis jagung,” ucap Sidi seusai panen raya jagung bersama Bupati Lamongan Fadeli di Desa Dadapan, Kecamatan Solokuro, 23 Februari 2018.

    Sidi menilai hal yang diraih Lamongan saat ini adalah buah dari kebijakan Bupati yang sangat pro-pertanian dan pro-petani melalui program pertanian jagung modern. Lahan percontohan seluas 100 hektare yang dibuka setelah belajar dari Iowa, Amerika Serikat, sukses diaplikasikan petani Lamongan di luar kawasan.

    Baca berita lain tentang ekspor di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.