Telkom akan Rampungkan Transaksi PSN Semester I 2003

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Kristiono memperkirakan transaksi pembelian atas PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) selesai pada akhir semester I tahun 2003. Meski begitu, hingga kini Telkom belum juga memastikan apakah benar-benar akan membeli PSN. Tapi kita belum menentukan, apakah kita mau masuk atau malah mau keluar, katanya kepada wartawan, di Jakarta, Kamis (16/1). Menurut dia, saat ini penilaian (valuasi) atas PSN semuanya telah selesai dilakukan. Saat ini, lanjutnya, yang tinggal diselesaikan adalah menegosiasikannya dengan para pemegang saham. Seperti diketahui, sejak pertengahan tahun lalu Telkom berniat menguasai mayoritas kepemilikan di PSN. Untuk memastikan layak tidaknya perusahaan itu diakuisisi, Telkom memutuskan untuk melakukan uji tuntas atas perusahaan itu. Saat ini, Telkom hanya memiliki sekitar 22,5 persen saham. Sisanya dimiliki oleh PT Elektrindo Nusantara, anak perusahaan PT Bimantara Citra, Telesat Canada, Hughes Space Intl. dan pemegang saham perorangan. Sebelumnya, Kristiono pernah mengatakan, perusahaan berniat menambah kepemilikan saham di PSN menjadi 51 persen. Karena itu, Telkom akan membeli saham-saham milik para pemegang saham Pasifik Satelit lainnya, termasuk dari publik. Menurut dia, pihaknya menginginkan secepatnya merampungkan kepemilikan Telkom di berbagai anak usahanya. Entah itu hendak memperbesar atau melepas seluruh kepemilikannya. Kalau bisa seluruh anak perusahaan ini kita percepat dan bisa dirampungkan Semester I. Karena valuasinya seluruh selesai, kata Kristiono. Tapi dia menolak menjelaskan hasil valuasi itu dan mengaku belum menerima laporannya. Hal ini diungkapkan Kristiono menanggapi keuntungan mengakusisi PSN karena memiliki utang yang besar. Kita selalu bisa bolak-balik. Belum pasti masuk, bisa jadi keluar, imbuhnya. Sehubungan dengan penundaan kenaikan tarif telepon yang dapat mempengaruhi target pendapatan perseroan, kata Kristiono, Telkom akan mencari pembiayaan dengan resiko kecil. Salah satunya lewat pola bagi hasil (revenue sharing) dengan mitra kerjanya. Komposisinya hingga 2006, yaitu Telkom 60 persen dan 40 persen BOT (mitra kerja), katanya. Sumber pembiyaan lainnya, lanjut Kristiono, dari dana kas internal perseroan, utang, dan ekspor kredit. Dalam paket T-21 ada fasilitas ekspor kredit. Jadi kita bisa ambil dari ekspor kredit, katanya. Tapi dia belum bisa mengungkapkan besarnya kredit ekspor yang diraih. Karena tergantung dari besarnya proyek. Cukup fleksibel. Kebanyakan bisa menyediakan 80 persen dari nilai proyek, ujarnya. Penerbitan obligasi tahun 2003 juga belum bisa dipastikan Kristiono. Karena obligasi rupiah Telkom masih bersisa dan dijadwalkan habis hingga akhir tahun 2003. Tapi peluang obligasi, lanjutnya, kemungkinan sangat kecil. Saya rasa potensi untuk mengeluarkan bond tahun ini, kebutuhannya kurang, imbuhnya. Terkait rencana penawaran perdana saham PT Telkomsel tahun ini, yang pernah diungkapkan Menneg BUMN Laksamana Sukardi termasuk dalam program privatisasi BUMN oleh pemerintah, Kristiono memastikan tidak ada. Kita belum ada kebijakan tentang itu, katanya memastikan hal itu tidak masuk dalam Rencana Kerja Perseroan 2003 (RKP). Alasannya, Telkom belum memandang perlu melakukan itu dan urgensinya. Saat ini Telkom menguasai 65 persen kepemilikan di Telkomsel dan 35 persen dipegang Singtel. (Yura Syahrul - Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Sidang MK, Tudingan Kubu Prabowo - Sandiaga soal Pilpres 2019

    Pada 16 Juni 2019, Tim kuasa hukum Prabowo - Sandiaga menyatakan mempersiapkan dokumen dan alat bukti soal sengketa Pilpres 2019 ke Sidang MK.