Pelindo IV Buka Pelayaran Langsung dari Balikpapan ke Cina

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Pelabuhan dan Peti Kemas. Getty Images

    Ilustrasi Pelabuhan dan Peti Kemas. Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Pelabuhan Indonesia IV (Pelindo IV) membuka pelayaran langsung atau Direct Call ke Cina dari Terminal Peti Kemas Kariangau, Balikpapan. Pelayaran langsung diestimasi menurunkan biaya pengiriman dan mempercepat waktu pengiriman.

    Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengatakan pemerintah daerah perlu bekerja sama dalam mendukung pelayaran langsung ke Cina yang dilayani perusahaan pelayaran SITC. Dia berharap pelayaran langsung dari Balikpapan bisa menjadi stimulus bagi perekonomian Kalimantan Timur.

    Baca juga: Pelindo IV Targetkan Pelabuhan Kendari New Port Beroperasi 2019

    "Momentum ini merupakan bentuk kehadiran BUMN untuk negeri yang menjadi pilar utama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat maupun pertumbuhan ekonomi daerah Kalimantan Timur," ujarnya melalui siaran pers, Senin, 9 April 2018.

    Dalam pengapalan perdana dari Terminal Kariangau, kapal MV Meratus Tomini mengangkut sejumlah komoditas kayu olahan dan coklat sebanyak 100 kontainer. Kapal berlayar dari Balikpapan langsung ke Shanghai, dan dijadwalkan berlayar satu kali dalam sepekan.

    Direktur Utama Pelindo IV Doso Agung mengatakan pelayaran langsung dari Balikpapan bisa menurunkan biaya logistik bagi para pengusaha. Waktu tempuh dari Balikpapan ke Shanghai dengan pelayaran langsung juga turun menjadi 9 hari dari semula 25 hari-30 hari.

    "Selain biaya logistik bisa lebih hemat, daya saing produk pun akan meningkat. Misalnya seperti ikan beku jauh lebih segar bila lewat jalur direct call (pelayaran langsung) karena waktunya lebih singkat," tutur Doso.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.