Menteri Perdagangan: Fenomena Beras Berwisata Sudah Puluhan Tahun

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengecek kualitas beras di lapak Pasar Beras Induk Cipinang, Jakarta, 19 Februari 2018. Di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), beras medium masih dipatok antara Rp 10.000-11.000 per kilogram (kg). Sedangkan harga eceran tertinggi (HET) beras medium Rp 9.450 per kg. TEMPO/Tony Hartawan

    Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengecek kualitas beras di lapak Pasar Beras Induk Cipinang, Jakarta, 19 Februari 2018. Di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), beras medium masih dipatok antara Rp 10.000-11.000 per kilogram (kg). Sedangkan harga eceran tertinggi (HET) beras medium Rp 9.450 per kg. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengungkapkan bahwa fenomena berbagai komoditas pangan, seperti beras berwisata alias berputar-putar ke berbagai daerah dulu sebelum sampai tangan konsumen, sudah terjadi selama puluhan tahun.

    "Ya, sebenarnya sudah tahulah semua, kita juga sudah tahu. Saya paling tidak, saya pada waktu tahu dari mana ini, dari mana ininya (asal komoditasnya)," kata Enggartiasto di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Senin, 9 April 2018.

    Baca juga: Menteri Perdagangan Beberkan Fenomena Beras Berwisata

    Enggar kemudian menceritakan kunjungannya ke Cirebon belum lama ini. Ia mengatakan lumbung beras untuk Jawa Barat berada di Kabupaten Cirebon. Namun, ketika ia bertanya asal pasokan beras yang ada di Kota Cirebon, rupanya beras itu berasal dari Brebes, Tegal, dan Sragen.

    Selain beras, komoditas pangan yang kerap berwisata adalah bawang merah. Misalnya, Enggar menyebutkan, bawang merah dari Brebes dibawa ke Pasar Kramat Jati di Jakarta, lalu ke Jatibarang, dan balik lagi ke Indramayu. Padahal, kata dia, jarak Brebes dan Indramayu berdekatan. "Itu putar-putar saja. Jalan-jalan," katanya.

    Menurut Enggar, penyebab komoditas pangan itu berputar-putar adalah bergantung pada permintaan. Pasalnya, panen tidak terjadi secara serentak, sehingga pangan tersebut dibawa ke sejumlah daerah dan akan berdampak pada ongkos.

    Enggar pun mengimbau pemerintah daerah bersinergi dengan pemerintah pusat untuk memperbaiki sistem informasi produksi dan perdagangan.

    "Kalau sekarang ada datanya dan sudah dibenahi sistem informasinya, Ngawi kapan panen, Banyuwangi, Sidrap kapan panen, ada daerah yang memang tak pernah panen. Jakarta tak pernah panen, kan? Nah, kapan akan dibutuhkannya nanti pengaturannya dan penyimpanannya," kata Menteri Perdagangan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.