Grab Akuisisi Uber, Begini Kisah Kecewanya Para Pengguna

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Eks pengemudi ojek online Uber menjalani tes safety riding dalam persyaratan masuk menjadi pengemudi Ojek online Grab di halaman GOR Benhil, Jakarta Pusat, Jumat, 6 April 2018. TEMPO/Lani Diana

    Eks pengemudi ojek online Uber menjalani tes safety riding dalam persyaratan masuk menjadi pengemudi Ojek online Grab di halaman GOR Benhil, Jakarta Pusat, Jumat, 6 April 2018. TEMPO/Lani Diana

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan aplikasi Grab resmi mengambil alih unit bisnis, Uber, di Asia Tenggara pada 8 April 2018. Beberapa pengguna setia Uber mengaku kehilangan akibat bergabungnya kedua aplikasi tersebut.

    Salah satu pengguna setia Uber yang kecewa atas akuisisi tersebut adalah Daniyah. Wanita berusia 23 tahun itu menyayangkan hilangnya Uber sebagai salah satu aplikasi transportasi online tersebut. Sebab, selama ini, kata Daniyah, Uber adalah aplikasi transportasi online yang mematok harga termurah per kilometer.

    Baca: 300 Pengemudi Uber Mendaftar ke Grab Bike per Hari

    “Saya kehilangan dan terpukul. Bisa bangkrut saya, karena harga Uber selama ini yang paling murah,” kata Daniyah kepada Tempo, Ahad, 8 April 2018. Daniyah mengatakan, selama ini harga aplikasi pesaing Uber, yakni Grab dan Go-Jek dua kali lebih mahal.

    Hal yang sama dilontarkan oleh Eufrasia Erika, salah satu pengguna Uber lainnya. “Uber itu paling murah, pernah saya dari Jatiwaringin - Kampung Melayu hanya dipatok Rp 2.500, murah banget jadi sedih karena sekarang sudah enggak ada,” kata Erika.

    Per Ahad, 8 April 2018 itu, Uber bergabung dalam keluarga besar Grab. Para pengguna tidak dapat lagi menggunakan aplikasi transportasi online tersebut. Uber juga mengirim email kepada para pengguna yang mengingatkan untuk segera mengunduh aplikasi Grab dan membuat akun.

    Selain di Indonesia, Grab mengambil bisnis Uber di Kamboja, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, serta Vietnam. Saat mengumumkan akuisisi, Grab menargetkan penguasaan pasar layanan pesan-antar makanan di Asia Tenggara. "Kami akan menciptakan lebih banyak manfaat untuk konsumen, pengemudi, agen pengiriman, dan mitra merchant kami yang terus berkembang," ujar Co-founder Grab Tan Hooi Ling, Senin lalu.

    Kerja sama antara Uber dan Grab sudah terlihat dari investor yang sama dari kedua perusahaan. Bank asal Jepang, SoftBank Group, merupakan investor kakap di Uber dan Grab. SoftBank pula yang mendorong konsolidasi antara kedua perusahaan itu.

    Saat berkunjung ke India pada Februari lalu, CEO Uber Dara Khosrowshahi mengatakan Uber tetap berkomitmen melayani konsumennya di Asia Tenggara. Padahal kondisi perusahaan saat itu sedang berdarah-darah. Uber sendiri menolak berkomentar atas rencana ini.

    Hengkangnya Uber dari Asia Tenggara membuat peta persaingan di industri transportasi online di Indonesia kian sempit. Saat ini, saingan terberat Grab hanya tinggal Go-Jek.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?