Harga Minyak Melonjak, Garuda Patok Hedging Avtur 25 Persen

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat Garuda Indonesia Boeing 737 Max 8

    Pesawat Garuda Indonesia Boeing 737 Max 8

    TEMPO.CO, Jakarta - Maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. mempertahankan rasio lindung nilai atau hedging terhadap harga avtur di level 25-27 persen sepanjang tahun ini. Perseroan terus memantau kondisi pasar untuk dapat meningkatkan rasio hedging tersebut.

    Hal ini dilakukan karena pertimbangan pengeluaran perseroan untuk membeli avtur merupakan beban terbesar yang turut berperan membuat emiten pelat merah tersebut rugi besar pada tahun lalu. Berdasarkan dokumen yang dipublikasikan perseroan, biaya yang dikeluarkan untuk avtur pada 2017 mencapai US$ 1,15 miliar.

    Baca: Kabut, Garuda Indonesia Tak Bisa Mendarat di Pekanbaru

    Beban tersebut melonjak 25 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sekaligus berkontribusi hingga 56,6 persen terhadap total expense Garuda Indonesia pada 2017. Untuk menekan kerugian pada tahun ini, perusahaan berencana menjaga rasio hedging.

    Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Helmi Imam Satriyono mengungkapkan, perseroan telah meningkatkan volume belanja bahan bakar yang telah dilindung nilai dalam setahun terakhir. Pelaksanaan hedging dilakukan, namun dengan memperhatikan kondisi pasar.

    "Rasio yang di-hedging terhadap total konsumsi avtur saat ini kami pelihara di kisaran 25-27 persen, meningkat dari level semula pada kuartal II/2017 yang masih 12-15 persen,” kata Helmi, Rabu, 4 April 2018.

    Helmi mengungkapkan perusahaan tersebut memantau ketat situasi pasar untuk dapat mengubah rasio hedging. Adapun, pada tahun lalu, Garuda Indonesia membukukan kerugian US$ 213,4 juta atau jeblok 2.378,6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang positif US$ 9,4 juta.

    Manajemen Garuda Indonesia sempat menyebut kenaikan harga minyak dunia yang sudah mencapai level US$ 60-an per barel dari US$ 50 per barel pada 2017, akan ikut mengerek harga avtur. Selain itu, kondisi global masih menyebabkan pergerakan nilai tukar rupiah berfluktuasi.

    Perseroan berharap pada full year 2018 dapat membukukan laba meski triwulan pertama diperkirakan masih ada kerugian. "Untuk memperbaiki finansial, perusahaan melakukan beberapa upaya, salah satunya yaitu hedging atau lindung nilai terhadap avtur," seperti dikutip dari prospektus PT Garuda Indonesia Tbk. belum lama ini.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.