Kepada Duta Besar Negara Sahabat, Jokowi Minta Prioritaskan Ini

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo saat Upacara Penyerahan Surat-surat Kepercayaan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Designate Resident dan Designate Non Resident untuk Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, 4 April 2018. 11 Dubes serahkan surat kepercayaan kepada Jokowi. TEMPO/Subekti.

    Presiden Joko Widodo saat Upacara Penyerahan Surat-surat Kepercayaan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Designate Resident dan Designate Non Resident untuk Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, 4 April 2018. 11 Dubes serahkan surat kepercayaan kepada Jokowi. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menerima surat kepercayaan dari sebelas Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) negara sahabat yang berkedudukan di Indonesia. Sebelas negara tersebut terdiri dari Uganda, Gambia, Pantai Gading, Bahrain, Korea Selatan, Australia, Fiji, Rusia, Gerogia, Latvia, dan Polandia.

    Dalam acara ini, Jokowi dan para duta besar menyempatkan diri berdiskusi mengenai kerja sama ekonomi di sesi veranda talk di Istana Merdeka. Menteri Luar Negeri Retno LP. Marsudi yang mendampingi Jokowi mengatakan, presiden secara umum menyampaikan kerja sama ekonomi dengan semua negara menjadi prioritas bagi Indonesia.

    "Misalnya dalam konteks Uni Eropa, presiden tekankan masalah pentingnya kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan antara Indonesia dan Uni Eropa," katanya seusai pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 4 April 2018.

    Simak: Jokowi dan Presiden Korsel Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Ekonomi

    Retno menjelaskan Indonesia saat ini sedang melakukan negoisasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA). "Dan Indonesia meminta kembali perhatian mengenai masalah kelapa sawit," ujarnya.

    Dengan Korea Selatan, kata Retno, Jokowi meminta akselerasi industrialisasi menjadi fokus kerja sama kedua negara. Adapun dengan Australia, Jokowi menyampaikan undangan untuk Perdana Menteri Malcolm Turnbull untuk menghadiri Our Ocean Conference yang bakal diadakan di Bali, Oktober mendatang.

    Kepada Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Jokowi meminta hubungan kerja sama ekonomi Indonesia-Rusia tidak cukup dalam konteks bilateral. Ia menginginkan naik ke konteks Eurasian Economic Union. Pemerintah menargetkan angka perdagangan Indonesia-Rusia yang masih berkisar US$ 2,6-US$ 3 miliar naik menjadi US$ 5 miliar.

    "Kami sampaikan proposal untuk negoisasi Eurasian di mana Rusia menjadi negara anggota dan kami sampaikan agar Rusia terus mendukung Indonesia dalam rangka pengembangan ekonomi dengan EAEU (Eurasian Economic Community)," ujarnya.

    Adapun dengan negara-negara dari benua Afrika, Jokowi menginginkan hubungan politik yang kuat bisa diteruskan kepada hubungan ekonomi. Terlebih pekan depan Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Indonesia-Afrika Forum. "Dalam forum ini nanti akan ada banyak deal bisnis dengan negara di Afrika," kata Retno.

    Sedangkan untuk Bahrain, yang baru pertama kali datang ke Istana, mereka meminta Indonesia meningkatkan kerja sama di bidang energi gas dan minyak. "Mereka minta bantuan bertemu dengan menteri ESDM secara khusus," ucap Jokowi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.