Prabowo Sebut Elite Menipu, Airlangga: Ekonomi RI Naik Peringkat

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartanto bersama Ketua Dewan Pembina Partai Gorlkar Aburizal Bakrie memberikan keterangan pada media seusai rapat strategi pemenangan Pilkada dan Pemilu 2019 di kantoe DPP Golkar, Slipi, Jakarta, 27 Maret 2018. TEMPO/Hendrantyo Hanggi

    Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartanto bersama Ketua Dewan Pembina Partai Gorlkar Aburizal Bakrie memberikan keterangan pada media seusai rapat strategi pemenangan Pilkada dan Pemilu 2019 di kantoe DPP Golkar, Slipi, Jakarta, 27 Maret 2018. TEMPO/Hendrantyo Hanggi

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menanggapi pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto ihwal banyaknya elite yang menipu dan membuat perekonomian Indonesia tidak maju. "Ya namanya orang mau kampanye, apa juga boleh dipakai," kata Airlangga di Kompleks Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin, 2 April 2018.

    Airlangga menjelaskan, perekonomian Indonesia saat ini naik tingkat di posisi 16 dunia. Selain itu, rata-rata pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen.

    Kondisi itu, menurut Airlangga, lumrah terjadi di negara-negara yang mengalami bonus demografi, seperti Indonesia. "Kemudian dari rating agency semuanya positif. Artinya semua dari segi neraca, segi pertumbuhan, segi employment, trennya positif," kata dia menambahkan.

    Baca juga: Soal Pencapresan, Desmond Gerindra: Keputusan di Tangan Prabowo

    Dalam safari politiknya di sejumlah daerah di Jawa Barat, Prabowo menyampaikan ketidaksukaannya pada elite politik sekarang, terutama elite Jakarta karena banyak yang menipu. Semua pernah terjadi karena mereka menerapkan sistem perekonomian neoliberalisme di Indonesia.

    Prabowo sempat mengaku tertarik pada paham ini, saat masa Orde Baru, ketika dia tergabung dalam Partai Golkar. Pada masa itu, pemerintah menggunakan pendekatan trickle down effect atau teori menetes ke bawah yang diperkenalkan Albert Otto Hirschman, pencetus paham neoliberalisme.

    "Ternyata paham itu bohong. Kesejahteraan enggak menetes-netes ke bawah. Malah dibawa ke luar negeri oleh elite," ujar Prabowo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.