Forbes Rilis 30 Under 30 Asia, Siapa Saja dari Indonesia?

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mata uang dolar.  REUTERS/Guadalupe Pardo

    Ilustrasi mata uang dolar. REUTERS/Guadalupe Pardo

    TEMPO.CO, Jakarta -Majalah Forbes telah merilis daftar nama-nama orang yang berpengaruh di bawah usia 30 tahun, 30 Under 30 Asia tahun ini. Di antara 30 nama tersebut, 13 berasal dari Indonesia.

    Nama-nama asal Indonesia yang sudah dikenal luas adalah Dian Pelangi dan Rich Brian. Dalam daftar 30 Under 30 Asia yang dirilis Forbes, Selasa, 27 Maret 2018, Dian masuk dalam kategori The Arts dan Celebrities sedangkan Rich Brian dalam kategori Entertainment & Sports dan Celebrities.

    Namun ada nama-nama lain yang mungkin tidak banyak dikenal tapi sebenarnya memiliki prestasi yang luar biasa. Misalnya Fransiska Hadiwidjana yang merupakan pendiri Prelo, sebuah marketplace yang fokus pada teknologi ramah lingkungan serta pemberdayaan komunitas.

    Selain mengurus Prelo, Fransiska yang masih berusia 28 tahun ini juga masuk dalam daftar 10 entrepreneur teknologi perempuan di Asia Tenggara versi Forbes dan turut membidani lahirnya AugMI. Ini adalah sebuah startup biomedis yang berbasis di Silicon Valley, California, AS.

    Duo Muhamad Risyad Ganis dan Yohanes Sugihtononugroho adalah perwakilan Indonesia lainnya dalam daftar ini. Pada 2016, keduanya mendirikan Crowde yaitu sebuah platform penggalangan dana investasi bagi para petani di daerah.

    Dengan platform ini, para petani mendapatkan akses pendanaan alternatif di luar perbankan dan rentenir. Masyarakat bisa ikut berpartisipasi dengan menginvestasikan dana mulai dari US$1 dan turut memantau perkembangan hasil pertanian terkait secara online.

    Begitu panen, para investor akan mendapatkan sebagian dari hasil keuntungan para petani. Forbes melaporkan Crowde turut mendapat penghargaan untuk sektor pertanian pada DBS-NUS Social Venture Challenge Asia pada 2017.

    Ada pula Iwan Kurniawan dan Reynold Wijaya, pendiri Modalku. Modalku adalah platform peer-to-peer (P2P) lending yang beroperasi di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

    Platform ini menghubungkan pelaku UMKM yang layak kredit dengan pemberi pinjaman yang mencari alternatif investasi melalui pasar digital. Pemberi modal mendapat alternatif investasi dengan tingkat pengembalian hingga 35 persen per tahun, sedangkan UMKM peminjam mendapatkan modal tanpa agunan hingga Rp 2 miliar.

    "Industri teknologi finansial maupun P2P lending masih tergolong sebagai industri baru di Indonesia. Namun, saya dan seluruh tim Modalku memiliki visi membangun inklusi keuangan untuk perekonomian Indonesia yang lebih maju dan mendukung perkembangan UMKM," ujar Reynold dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Rabu, 28 Maret 2018.

    Secara keseluruhan, terdapat 13 wakil Indonesia dalam daftar tersebut yang tersebar di 7 kategori. Adapun daftar 30 Under 30 Asia mencakup 300 anak muda dari 24 negara di kawasan ini, dari total nominasi sebanyak 2.000 orang. India menjadi negara yang menyumbangkan perwakilan terbanyak dengan 65 nominasi, disusul China dengan 59 orang dan Australia dengan 35 orang.

    Para inovator dan pengusaha muda ini dinilai mampu mengubah industri masing-masing dan mendorong perubahan positif di seluruh Asia.

    Mereka yang masuk dalam 30 Under 30 Asia versi Forbes dari Indonesia adalah Brian Imanuel alias Rich Brian, Perancang busana Dian Pelangi, pemilih bakery BEAU Talita Setyadi, pemilik puding Puyo Adrian Agus dan Eugenie Agus, Iwan Kurniawan dan Reynold Wijaya yang merupakan pendiri Modalku. Selain itu Stanislaus Mahesworo Christandito Tandelilin, salah satu pendiri online shop Sale Stock, Krishnan Menon dan Marshall Utoyo, pendiri Fabelio, Fransiska Hadiwidjana, pendiri Prelo, Muhamad Risyad Ganis dan Yohanes Sugihtononugroho, pendiri Crowde.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.